- Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax per 10 Juni 2026 meningkatkan biaya operasional sektor agribisnis dari hulu hingga hilir.
- Pelaku usaha terpaksa menekan margin keuntungan atau mengurangi ukuran produk agar harga tetap terjangkau oleh daya beli konsumen.
- Pakar UGM menyarankan pemerintah memperkuat produksi domestik dan kemandirian pangan guna meminimalisir dampak fluktuasi harga terhadap perekonomian nasional.
Suara.com - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sejak 10 Juni 2026 dinilai bukan sekadar membebani pengguna kendaraan pribadi. Di balik lonjakan harga tersebut, sektor agribisnis disebut menghadapi ancaman kenaikan biaya yang dapat menekan keuntungan pelaku usaha dari hulu hingga hilir.
Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pangan yang masih sangat bergantung pada transportasi.
Menurutnya, tambahan biaya tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga pelaku distribusi hingga pedagang yang terlibat dalam rantai pasok pangan.
"Pasti dampaknya besar karena mobilitas pangan menggunakan transportasi yang membutuhkan BBM. Pada akhirnya biaya bertambah dan keuntungan pelaku usaha berkurang," kata Hani, Jumat (19/6/2026).
Hani menjelaskan dampak kenaikan BBM akan merambat ke seluruh mata rantai agribisnis, mulai dari proses produksi, penanganan pascapanen, distribusi, hingga pemasaran.
Sektor distribusi diperkirakan menjadi bagian yang paling rentan terkena imbas. Semakin jauh jarak pengiriman, semakin besar pula biaya tambahan yang harus ditanggung pelaku usaha.
"Di dalam rantai pemasaran atau value chain, mulai dari produksi, pascapanen, distribusi hingga pemasaran pasti terdampak dengan adanya kenaikan BBM ini," ungkapnya.
Namun, menurut Hani, kenaikan biaya operasional tidak selalu bisa langsung dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk. Banyak pelaku usaha justru berusaha mempertahankan daya beli masyarakat agar tidak kehilangan pasar.
Dalam kondisi seperti itu, berbagai strategi biasanya ditempuh, mulai dari menekan margin keuntungan, mengurangi ukuran produk, hingga melakukan efisiensi pada proses produksi dan distribusi.
Baca Juga: Ditemani Polwan, Momen dr Tifa Ujian S3 di Kantor Polisi usai Ditangkap Kasus Ijazah Jokowi
"Kadang lebih mudah mengurangi kualitas atau ukuran produk daripada langsung menaikkan harga karena pelaku usaha juga mempertimbangkan respons konsumen," tuturnya.
Ia mencontohkan pelaku usaha pengolahan kopi yang kini menghadapi kenaikan biaya produksi dari berbagai sisi. Meski demikian, mereka belum tentu dapat langsung menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan kemampuan konsumen membeli produk tersebut.
"Input produksi meningkat, tetapi pelaku usaha belum tentu bisa langsung menaikkan harga karena ada pertimbangan daya beli konsumen," tuturnya.
Di tengah tekanan biaya tersebut, Hani menilai pemerintah perlu memberikan dukungan yang tepat sasaran, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah yang paling rentan terdampak gejolak harga.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memperkuat produksi domestik dan mendorong kemandirian pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar global.
Menurutnya, semakin besar kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri, semakin kecil pula dampak gejolak harga internasional terhadap perekonomian nasional.
"Ketika kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka pengaruh fluktuasi harga global juga dapat ditekan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali