-
AS dan Iran sepakat membuka kembali Selat Hormuz setelah ketegangan militer mereda.
-
UKMTO menurunkan status ancaman maritim dari level kritis menjadi moderat pekan ini.
-
Pelaut diminta waspada terhadap potensi ranjau laut selama proses pembersihan berlangsung.
Suara.com - Ketegangan di Selat Hormuz mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai baru untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Langkah krusial ini langsung direspons dengan penurunan status risiko komersial oleh otoritas keamanan laut internasional.
Dikutip dari CNN Internasional, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) kini menetapkan tingkat ancaman di koridor minyak global tersebut pada level "moderat".
Padahal sebelumnya, wilayah perairan ini berada dalam status "kritis" akibat masifnya operasi militer regional.
Keputusan krusial tersebut menjadi angin segar bagi industri logistik global yang sempat lumpuh. Konflik bersenjata di kawasan itu sebelumnya dinilai sangat mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
Meski situasi berangsur kondusif, para pelaut yang melintasi kawasan ini tetap diminta untuk tidak lengah. Risiko sisa-sisa konflik bersenjata dilaporkan masih membayangi rute pelayaran komersial.
Melalui nota penasihat resmi pada hari Kamis, UKMTO mengingatkan adanya sisa operasi militer yang belum tuntas.
"Pelaut harus disarankan mengenai keberadaan ranjau dan memperkirakan kehadiran angkatan laut saat operasi pembersihan berlanjut," tulis lembaga bentukan Angkatan Laut Inggris tersebut.
Otoritas terkait juga memprediksi akan terjadi penumpukan volume kapal di sepanjang rute transit utama.
Kendati demikian, armada angkatan laut internasional dipastikan tetap bersiaga guna menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan.
Baca Juga: Akhirnya! Amerika Serikat dan Iran Tanda Tangan Perjanjian Sudahi Perang
Pemulihan jalur maritim ini terjadi bertepatan dengan pengumuman penting dari militer Amerika Serikat.
Pentagon secara resmi mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang telah berlangsung ketat sejak April lalu.
Penutupan akses laut tersebut sebelumnya dipicu oleh eskalasi politik dan aksi saling balas kekuatan militer di Timur Tengah.
Blokade berbulan-bulan ini sempat memicu lonjakan biaya asuransi kapal dan mengganggu distribusi minyak mentah ke berbagai negara.
Kini, dengan diturunkannya status ancaman, aktivitas perdagangan internasional di Selat Hormuz diharapkan dapat segera kembali normal. Walau demikian, pemantauan ketat terhadap potensi ranjau masih menjadi fokus utama armada pelindung maritim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Jangan Salahkan Rakyat! Ekonom Sebut Tata Kelola Pemerintah Jadi Biang Kerok Daya Beli Lesu
-
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang Pemerintah: Bukan Abu-abu, Tapi Teman yang Jujur
-
Kabel Menjuntai Renggut Nyawa Siswi SMAN 6 Jakarta, Pramono Turun Tangan
-
Ketua DPR Iran ke AS: Jangan Minta Hal Berlebihan, Kami Tak Ragu Menghancurkan
-
Giliran Kelompok Tani Geruduk Patung Kuda, Suarakan Pengaruh MBG Hingga Reforma Agraria
-
Alasan KPK Belum Periksa Anggota Pansus Haji Diduga Terima 1 Juta Dolar AS
-
Pagar Masih dari Bambu, Gibran Janjikan Revitalisasi Sekolah untuk Wilayah 3T
-
Jakarta Ramai Unjuk Rasa, Pramono Ingatkan Massa Peserta Aksi: Jangan Sentuh Fasilitas Umum
-
Ekonom Celios Pertanyakan Anggaran MBG Rp268 Triliun: Kalau Fokus ke 3T, Cukup Rp67 Triliun
-
Dukung Penangkapan Eks Kepala BGN, Tani Merdeka: Program Prabowo Bagus, Oknumnya yang Main!