- Badan Gizi Nasional melakukan evaluasi total program Makan Bergizi Gratis demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi anggaran pemerintah.
- Celios mengkritik anggaran program tersebut yang dianggap tidak masuk akal serta menuntut fokus pada wilayah 3T.
- Komisi IX DPR RI berkomitmen memperketat pengawasan melalui rapat berkala dengan Badan Gizi Nasional terkait pelaksanaan program.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, merespons kritik pedas yang dilayangkan Center of Economic and Law Studies (Celios) terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi tudingan bahwa program tersebut hanya menjadi ajang bagi-bagi keuntungan, Yahya mengungkapkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini tengah melakukan evaluasi total.
Yahya menjelaskan, evaluasi yang dilakukan BGN mencakup tiga poin utama untuk memastikan program berjalan lebih efektif dan efisien.
"BGN sedang melakukan evaluasi total terkait tiga hal. Pertama, moratorium SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) atau dapur baru, jadi tidak ada pembukaan dapur baru. Kedua, refocusing penerima manfaat. Dan ketiga, efisiensi anggaran, termasuk pemberian insentif Rp6 juta per hari kepada SPPG akan dievaluasi," ujar Yahya saat dihubungi Suara.com, Kamis (19/6/2026).
Sebelumnya, Ekonom Politik Celios, Media Wahyudi Askar, mengkritik keras program MBG yang dinilai memiliki penyusunan anggaran tidak masuk akal jika mencapai ratusan triliun rupiah.
Celios berpendapat anggaran sebesar itu tidak diperlukan jika sasaran difokuskan pada wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) serta kelompok prioritas seperti ibu menyusui (busui), ibu hamil (bumil), dan balita.
Terkait tudingan Celios yang menyebut dalih pemberantasan stunting dalam program MBG hanyalah gimmick semata, Yahya Zaini memberikan pembelaan.
Ia menegaskan bahwa pemberian makanan bergizi pada kelompok 3B (bumil, busui, dan balita) adalah langkah konkret untuk memutus rantai kekerdilan pada anak.
"Untuk mengatasi stunting, MBG diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Masa paling kritis dalam pencegahan stunting adalah pada 1000 hari pertama kehidupan, yakni 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari di luar kandungan," jelas Politisi Partai Golkar ini.
Baca Juga: Mahasiswa Trisakti Minta MBG Dihentikan Sementara, Dinilai Serampangan dan Berisiko bagi APBN
Yahya menambahkan bahwa hasil dari program ini memang tidak bisa dilihat secara instan.
"Hasilnya belum bisa dirasakan sekarang, tetapi dua sampai tiga tahun ke depan," imbuhnya.
Ia juga memaparkan data bahwa terdapat sekitar 23 juta jiwa yang masuk dalam kategori ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Yahya mengakui bahwa hingga saat ini jangkauan program belum menyeluruh.
"Sampai sekarang belum semuanya menerima MBG, terutama di daerah 3T," katanya.
Guna memastikan evaluasi total yang dilakukan BGN berjalan sesuai rencana dan transparan, Komisi IX DPR RI berkomitmen untuk memperketat fungsi pengawasan.
Yahya memastikan pihaknya akan memanggil BGN secara berkala untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan program di lapangan.
Berita Terkait
-
Mahasiswa Trisakti Minta MBG Dihentikan Sementara, Dinilai Serampangan dan Berisiko bagi APBN
-
Kunjungan Gibran ke NTT, Ingin Pesantren dan Gereja Dilibatkan Dalam MBG
-
Membaca Hasil Survei MBG: Dari Kepuasan Menuju Kapabilitas
-
Ketum TMI Klaim Program MBG Bikin Anak Sekolah Lebih Percaya Diri, Bentuk Satgas Awasi SPPG
-
Giliran Kelompok Tani Geruduk Patung Kuda, Suarakan Pengaruh MBG Hingga Reforma Agraria
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis