-
Ancaman militer Donald Trump terhadap Iran memicu ketegangan hebat dalam negosiasi damai di Swiss.
-
Iran membalas gertakan Trump dengan menegaskan kesiapan angkatan bersenjata mereka untuk mengambil tindakan nyata.
-
Masa depan pemulihan jalur perdagangan internasional Selat Hormuz kini terancam akibat retorika kedua pemimpin.
Suara.com - Ancaman militer terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu ketegangan hebat dalam dialog diplomatik bersama Iran di Swiss. Hubungan kedua negara langsung memanas setelah Trump mengancam akan menggempur Teheran jika masih nekat memblokade Selat Hormuz.
Konfrontasi verbal ini nyaris membubarkan negosiasi yang sedang berlangsung di resor pegunungan Bürgenstock. Delegasi Iran dilaporkan sempat frustrasi dan menghentikan sesi awal pertemuan lebih cepat dari jadwal.
Sudut pandang baru kini menyoroti bagaimana ego politik pemimpin negara dapat langsung mementahkan upaya mediasi internasional. Di saat para diplomat berjuang meredam konflik, retorika agresif justru memperlebar jurang permusuhan di Timur Tengah.
Dalam wawancara eksklusif bersama Fox News, Trump mengaku telah memperingatkan pejabat Iran secara langsung melalui sambungan telepon. Ia menekankan agar Teheran tidak mencoba menutup jalur perdagangan minyak yang sangat krusial di mulut Teluk Persia tersebut.
“Anda menutupnya dan Anda tidak akan memiliki negara,” kata Trump menirukan ucapannya kepada pejabat Iran, dikutip dari FOX, Senin (22/6/2026).
Trump bahkan melontarkan kalimat yang jauh lebih kasar dan agresif saat berbicara dengan jurnalis Fox, Trey Yingst. Ia menegaskan kesiapan militer AS untuk merebut paksa jalur maritim tersebut jika kesepakatan damai gagal tercapai.
"Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian yang terkutuk itu. Kami mungkin akan mengambil alih selat ini, jika perlu. Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut tol. Aku akan menghancurkan mereka," tambah Trump.
Intervensi diplomatik dari Pakistan dan Qatar menjadi faktor penyelamat yang menjaga agar kedua pihak tidak langsung meninggalkan meja perundingan. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi harus turun tangan langsung membujuk delegasi Iran untuk tetap bertahan di lokasi.
Seorang pejabat senior Pakistan mengonfirmasi bahwa situasi sempat mendingan setelah ketegangan di ruang rapat memuncak.
Baca Juga: Senator Republik Prediksi Donald Trump Bakal Ambil Paksa Selat Hormuz
“Iran sudah sadar,” ungkap pejabat senior Pakistan tersebut, memastikan bahwa dialog masih bisa dilanjutkan.
Meskipun demikian, Teheran tidak tinggal diam dan langsung melempar peringatan balasan yang tidak kalah sengit. Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak gentar terhadap gertakan Washington.
"Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika. Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka, angkatan bersenjata kami siap merespons dengan cara lain. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang akan bertindak," tegas Ghalibaf melalui media sosial X.
Padahal sebelum insiden ini terjadi, Wakil Presiden AS JD Vance sempat menyatakan optimismenya terkait perkembangan pembicaraan damai tersebut. Vance memimpin delegasi Amerika bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al Thani.
"Kita telah mencapai kemajuan besar hanya dalam beberapa jam terakhir, dan saya berharap kita akan mencapai kemajuan tambahan dalam beberapa jam mendatang," ujar Vance optimis.
Fokus utama pertemuan ini adalah mematangkan nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani minggu lalu. Kerja sama tersebut membuka ruang diplomasi selama 60 hari untuk menyusun perjanjian akhir yang bisa diperpanjang atas persetujuan bersama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?
-
Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026
-
Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement