Bisnis / Energi
Senin, 22 Juni 2026 | 08:14 WIB
Sebagai Ilustrasi-Kapal Pertamina Pride tertahan di Selat Hormuz (Pertamina.com)
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah dunia naik signifikan pada Senin (22/6/2026) akibat terhambatnya arus pelayaran komersial di Selat Hormuz.
  • Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran dipicu ketegangan politik dengan Amerika Serikat terkait implementasi kesepakatan damai di Lebanon.
  • Kenaikan harga terjadi meskipun terdapat proyeksi peningkatan pasokan minyak dari negara produsen besar dan Iran sendiri.

Suara.com - Nilai dagang instrumen energi global mencatatkan grafik kenaikan solid pada pembukaan sesi perdagangan hari Senin (22/6/2026).

Lonjakan harga minyak mentah dunia ini dipicu oleh melambatnya arus pelayaran komersial di Selat Hormuz, yang diperparah oleh ketatnya hawa pertemuan awal antara utusan Amerika Serikat dan Iran dalam implementasi kesepakatan damai sementara mereka.

Berdasarkan data pasar komoditas pada jam perdagangan awal, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merangkak naik sebesar 54 sen atau menguat 0,67 persen ke level $81,11 per barel. Harga Brent bahkan sempat menyentuh batas tertinggi di angka $82,30 per barel saat bel pembukaan transaksi pertama berbunyi.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pasar AS melonjak tajam ke posisi $78,62 per barel, atau melejit hingga $2,02 (naik 2,64 persen) menjelang masa kedaluwarsa kontrak perdagangan harian.

Untuk kontrak bulan Agustus yang terpantau jauh lebih aktif, nilainya menanjak $1,43 ke level $77,28 per barel. Pergerakan agresif ini merupakan akumulasi setelah pasar keuangan AS sempat libur pada hari Jumat kemarin.

Data pelacakan maritim menunjukkan volume kapal dagang yang berhasil melintasi Selat Hormuz jatuh sangat drastis pada hari Minggu.

Penurunan ini terjadi setelah pihak Iran mengumumkan pemblokiran kembali jalur laut strategis tersebut. Teheran berdalih bahwa Israel dan Gedung Putih telah mencederai poin-poin dalam kesepakatan damai sementara yang baru disetujui.

"Ekspektasi pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai terlalu dini," ungkap Saul Kavonic, Head of Energy Research dari MST Marquee, dilansir dari Reuters pada Senin (22/6/2026).

Menurut Kavonic, pihak Iran diprediksi akan terus mencari celah alasan guna menghambat arus logistik energi di kawasan tersebut. Langkah ini diambil karena Selat Hormuz menjadi satu-satunya alat tawar geopolitik terkuat bagi Teheran menjelang pemilu paruh waktu, sehingga mereka tidak akan melepaskannya begitu saja.

Baca Juga: B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

Ketegangan geopolitik kian meruncing tatkala Presiden AS Donald Trump melayangkan ancaman untuk mengaktifkan kembali serangan militer ke Iran. Ancaman ini keluar tepat saat Wakil Presiden AS JD Vance bertatap muka dengan pejabat Teheran di Swiss. Di meja perundingan, pihak Iran langsung menuding AS ingkar janji karena tidak mampu meredam konfrontasi senjata di Lebanon.

Berdasarkan laporan kantor berita resmi Lebanon, NNA, rangkaian serangan udara Israel di Lebanon masih menewaskan sedikitnya 20 warga pada hari Sabtu. Insiden berdarah ini terjadi hanya berselang satu hari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hezbollah dinyatakan resmi berlaku.

"Kondisi di Lebanon terus menjadi ancaman nyata yang mengganggu keberlangsungan gencatan senjata dan rencana pembukaan jalur Selat Hormuz," tulis Tony Sycamore, Market Analyst dari IG, dalam catatan analisisnya.

Meskipun bergerak naik pada hari Senin, harga minyak dunia sejatinya sempat anjlok hingga lebih dari 8 persen sepanjang pekan lalu.

Penurunan tajam tersebut didasari oleh proyeksi melimpahnya pasokan seiring adanya rencana pelepasan kargo minyak yang sempat tertahan di Teluk, serta adanya peluang penghapusan sanksi ekonomi AS terhadap minyak Iran.

Direktur National Iranian Oil Company (NIOC), Hamid Bovard, dalam siaran televisi negara menyatakan bahwa lebih dari 25 juta barel minyak mentah Iran telah dikirim melewati garis blokade sejak hari Senin.

Di sisi lain, negara-negara produsen minyak besar lain seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mulai menawarkan tambahan volume pasokan minyak kepada para pelanggan mereka sejak pekan lalu. Kementerian Minyak Irak bahkan menegaskan komitmennya untuk mengembalikan tingkat produksi minyak mentah mereka secara bertahap ke koridor 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per harinya.

Load More