- Ridho Al-Hamdi menilai pernyataan Muhammad Qodari terkait program Makan Bergizi Gratis berpotensi memicu gelombang protes masyarakat yang lebih besar.
- Penolakan ruang dialog terhadap penggunaan anggaran negara tersebut mencerminkan sikap pemerintah yang dianggap tidak demokratis dan anti-kritik.
- Pemerintah didesak segera mengevaluasi serta memperbaiki mekanisme pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis melalui keterlibatan para ahli dan masyarakat.
Suara.com - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menilai pernyataan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah Muhammad Qodari yang menyebut tidak ada ruang negosiasi untuk menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi memicu gelombang protes yang lebih besar di masyarakat.
"Iya sangat mungkin akan terjadi protes yang lebih besar di kalangan publik, kan? Pasti," kata Ridho saat dihubungi, Suara.com, Senin (22/6/2026).
Menurut Ridho, sikap yang menutup ruang dialog terhadap sebuah kebijakan publik justru dapat meningkatkan kekecewaan masyarakat.
Terlebih, MBG merupakan program yang menggunakan anggaran negara. Sehingga publik berhak mengawasi, mengkritik, bahkan menggugat pelaksanaannya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan publik tidak bisa diposisikan sebagai sesuatu yang kebal terhadap kritik hanya karena menjadi janji politik presiden. Sebab, dana yang digunakan untuk menjalankan program tersebut berasal dari uang rakyat dan sumber daya alam milik negara.
"Karena ini urusan publik, maka sah-sah saja rakyat untuk melakukan tuntutan, bahkan bisa meminta untuk membatalkan," tegasnya.
Pernyataan dari Qodari yang tidak memberikan ruang negosiasi menunjukkan praktik pemerintahan yang tidak menghargai pendapat masyarakat. Menurut dia, pemerintah semestinya membuka ruang diskusi dan menerima masukan dari berbagai kelompok yang mengkritisi program MBG.
"Ini menjadi cermin pemerintahan Prabowo ini pemerintahan yang otoriter, pemerintahan yang tidak demokratis dan tidak menghargai pendapat rakyat," ujarnya.
Ia turut mengkritik peran Bakom yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Namun, respons yang muncul justru terkesan defensif dan menutup ruang demokrasi.
Baca Juga: Ketum TMI Klaim Program MBG Bikin Anak Sekolah Lebih Percaya Diri, Bentuk Satgas Awasi SPPG
"Bakom itu bukan jadi badan komunikasi yang baik, gitu ya, tapi malah menjadi badan buzzer, buzzer pemerintah... tidak ada ruang demokrasi dan ini menjadi anti-demokrasi karena tidak ada ruang negosiasi," ucapnya.
Lebih lanjut, Ridho meminta pemerintah memanfaatkan berbagai kritik dan hasil riset mengenai MBG sebagai bahan evaluasi.
Jika pemerintah tetap menjalankan program tersebut, maka mekanisme pelaksanaannya perlu dibenahi. Termasuk dengan melibatkan para ahli dan kelompok yang selama ini memberikan masukan
"Jangan semuanya karena melibatkan partai politik, melibatkan TNI, kemudian tidak ada ruang negosiasi. Ini yang salah dari kebijakannya Prabowo," tandasnya.
"Kalaupun tidak ada ruang negosiasi, ya tolong dong diperbaiki mekanisme pelaksanaan MBG karena memang dari berbagai riset, dari berbagai kritik data yang diberikan, MBG ini tidak ada yang beres sama sekali pelaksanaannya," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Ragnar Oratmangoen Pecah Kebuntuan! Timnas Indonesia Ungguli Singapura 1-0
-
Ironi Febrie Adriansyah: Ngaku Dikriminalisasi Usai Sering Lakukan Itu Saat Berkuasa?
-
Mural HUT ke-81 di Sukoharjo, Angka 8 Bergambar Pria Gendut, Angka 1 Pria Kurus
-
Dianggap Tak Lazim, Wamenkop Buka Alasan Kopdes Merah Putih Dibangun di Gunung hingga Dekat TPA
-
Sudaryono Jawab Soal Bisulan Karena Telur: Saya Sengaja Pancing Ahli Gizi!
-
Rutinitas Skincare Kini Makin Simpel, Pemilik Kulit Sensitif Mulai Utamakan Pelembap yang Praktis
-
Vietnam Unggul 1-0 Atas Kamboja, Timnas Indonesia Masih Tanpa Gol, Garuda di Ujung Tanduk
-
Istana Akui Presiden Prabowo Pertimbangkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI
-
Misteri 2 Orang Bermasker Tinggalkan TKP Penemuan Jenazah Bos Konter HP Ambarawa
-
Rekam Jejak Aneh Wasit Oman Khalfan Al-Amouri Laga Singapura vs Timnas Indonesia