- Pemerintah Indonesia menetapkan energi surya sebagai fokus utama transisi energi melalui revisi RUPTL periode 2025–2034 mendatang.
- Riset ANU menyatakan Indonesia memiliki potensi energi surya melimpah yang melampaui seluruh proyeksi kebutuhan energi nasional 2050.
- Realisasi pemanfaatan PLTS saat ini masih sangat rendah akibat tantangan regulasi, ekosistem pasar, serta kebutuhan konsistensi kebijakan pemerintah.
Suara.com - Revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 kembali menempatkan energi surya sebagai salah satu fokus utama dalam transisi energi Indonesia. Di atas kertas, kebijakan ini memperkuat sinyal bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan memainkan peran penting dalam bauran energi nasional ke depan.
Namun, di tengah arah kebijakan yang makin jelas, ada satu paradoks yang terus berulang: potensi energi surya Indonesia sangat besar, tetapi tingkat pemanfaatannya masih sangat kecil.
Saat ini, kapasitas terpasang PLTS di Indonesia masih sekitar 154 megawatt (MW). Angka ini tertinggal jauh dibanding negara lain di kawasan maupun global, seperti Australia (25.000 MW), Vietnam (16.500 MW), hingga Singapura (377 MW).
Di sisi lain, riset tim 100% Renewable Energy dari Australian National University (ANU) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat melimpah, bahkan lebih besar dibanding gabungan potensi energi terbarukan lain seperti hidro, angin, dan panas bumi.
Dalam skenario jangka panjang, potensi ini diproyeksikan tidak hanya mencukupi kebutuhan nasional, tetapi juga melampaui perkiraan konsumsi energi Indonesia pada 2050.
Dalam simulasi mereka, pemanfaatan energi surya secara masif akan membutuhkan miliaran panel surya dengan total area sekitar 35 ribu kilometer persegi—hampir setara dengan luas Provinsi Jawa Barat. Angka ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: jika potensinya sebesar itu, seberapa realistis ruang yang bisa digunakan?
Potensi besar, tapi realisasi masih tertinggal
Meski proyeksi terlihat sangat menjanjikan, kondisi di lapangan masih jauh dari ideal. Kontribusi energi surya dalam bauran energi nasional masih berada pada level yang sangat kecil.
Edwin Widjonarko, Co-Founder & Director of Technology Xurya, menyebut kesenjangan antara potensi dan realisasi ini sebagai salah satu fakta paling mencolok dalam perkembangan PLTS di Indonesia.
Baca Juga: ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS
“Kalau melihat berbagai studi, potensi PLTS sangat tinggi. Tapi penetrasinya masih sangat kecil, bahkan ada data yang menyebut di bawah 0,1 persen,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada tahap awal pemanfaatan energi surya, meski berada di wilayah khatulistiwa dengan paparan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun.
Kesenjangan antara potensi dan implementasi
Secara geografis, Indonesia sebenarnya berada pada posisi yang sangat ideal untuk pengembangan PLTS. Namun, idealitas itu belum sepenuhnya berubah menjadi kapasitas terpasang yang signifikan.
Kesenjangan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek teknologi, tetapi juga ekosistem yang lebih luas: regulasi, model bisnis, pembiayaan, hingga kesiapan pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran publik terhadap PLTS memang meningkat. Teknologi yang sebelumnya sering disalahpahami kini mulai lebih dikenal, terutama di sektor industri dan komersial.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung