Suara.com - Banjir besar, kekeringan berkepanjangan, gelombang panas, hingga badai ekstrem kini semakin sering muncul dalam percakapan tentang perubahan iklim. Di Indonesia, berbagai bencana hidrometeorologi bahkan telah menjadi peristiwa yang berulang hampir setiap tahun.
Di tengah kondisi tersebut, muncul asumsi yang terdengar masuk akal: ketika lingkungan tempat tinggal semakin sulit dihuni, masyarakat akan berpindah ke wilayah yang lebih aman.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara perubahan iklim dan migrasi ternyata tidak sesederhana itu.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Papers berjudul Cambio climático y migraciones: Una aproximación Delphi en la búsqueda del consenso mencoba menjawab pertanyaan yang selama ini masih diperdebatkan: seberapa besar sebenarnya perubahan iklim memengaruhi keputusan seseorang untuk bermigrasi?
Melalui metode Delphi, pendekatan yang digunakan untuk membangun konsensus dari berbagai ahli—penelitian ini melibatkan pakar dari bidang migrasi, perubahan iklim, hukum, kebijakan publik, dan pembangunan.
Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan iklim memang berpengaruh terhadap mobilitas manusia. Namun dalam banyak kasus, faktor lingkungan bukanlah penyebab utama seseorang meninggalkan tempat tinggalnya.
Alih-alih menjadi pemicu tunggal, perubahan iklim lebih sering memperkuat tekanan yang sudah lebih dulu ada.
Perubahan iklim memperbesar tekanan yang sudah ada
Keputusan untuk berpindah tempat ternyata hampir selalu lahir dari kombinasi berbagai faktor.
Baca Juga: Label Poliester Daur Ulang Terlihat Ramah Lingkungan, tetapi Apakah Benar Berkelanjutan?
Kondisi ekonomi, kesempatan kerja, akses pendidikan, konflik sosial, jaringan keluarga, hingga kebijakan pemerintah sering kali memiliki peran yang sama besar—atau bahkan lebih dominan—dibanding faktor lingkungan.
Dalam konteks ini, perubahan iklim bekerja seperti pengganda risiko.
Ambil contoh petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Tidak semua keluarga kemudian memutuskan pindah ke kota atau mencari lahan baru. Banyak yang justru tetap bertahan karena biaya perpindahan terlalu mahal, memiliki keterikatan sosial yang kuat, atau belum melihat peluang yang lebih baik di tempat tujuan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa migrasi bukan sekadar soal ada atau tidaknya ancaman lingkungan, tetapi juga soal kapasitas untuk bergerak.
Kelompok paling rentan justru sering tidak bisa berpindah
Salah satu temuan penting dalam studi ini adalah kelompok yang paling terdampak perubahan iklim tidak selalu menjadi kelompok yang paling banyak bermigrasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Sidang Perdana dr Tifa Dijadwalkan 2 Juli, Perkara Roy Suryo Masih Menunggu Putusan Praperadilan
-
Jepang Diguncang Gempa Dahsyat M 6,8, Apakah Berdampak ke Indonesia? Ini Kata BMKG
-
Venezuela Umumkan Darurat Nasional Usai Gempa Bumi Besar, Bandara Hingga Listrik Lumpuh
-
Cerita Warga Terjebak di Lantai 9: Gempa Venezuela Mengerikan dan Menakutkan
-
Luluh Lantakkan Kota Caracas, Ini Besaran Dua Gempa yang Guncang Venezuela
-
Gempa Bumi Venezuela, Banyak Gedung Runtuh di Caracas dan La Guaira
-
Diduga Terima Suap Ruko dan Miliaran Rupiah, Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Perdana
-
Venezuela Diguncang Gempa Bumi 'Raksasa' 7,2 SR, Korban Berjatuhan
-
Mendagri Hadiri Puncak PENAS XVII 2026, Dukung Penguatan Petani dan Nelayan di Gorontalo
-
Mendagri Tegaskan Penguatan Program Bedah Rumah sebagai Bentuk Keberpihakan kepada Rakyat