- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan partainya tidak terpengaruh tuduhan sebagai dalang di balik aksi demonstrasi mahasiswa di Indonesia.
- Hasto menyatakan di UGM pada Kamis (25/6/2026) bahwa pemerintah dan partai politik wajib menanggapi kritik secara kelembagaan.
- PDIP menyoroti adanya potensi kepentingan politik dalam gerakan mahasiswa dan menekankan pentingnya menjaga kemurnian idealisme mahasiswa dalam demokrasi.
Suara.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan partainya tidak akan terpengaruh oleh berbagai tuduhan yang mengaitkan PDIP dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa. Menurut dia, tudingan semacam itu merupakan risiko politik.
"Ketika PDI Perjuangan mau dituduh dengan berbagai tuduhan apa pun, selama kami setia pada jalan kerakyatan, setia pada jalan ideologi Pancasila, pada watak pembebasan bagi rakyat-rakyat tertindas, bagi rakyat-rakyat miskin, ya kami akan kebal terhadap berbagai tuduhan-tuduhan tersebut," kata Hasto saat ditemui di UGM, Kamis (25/6/2026).
Hasto menegaskan, ukuran utama bagi PDIP bukanlah tuduhan yang dilontarkan pihak tertentu, melainkan konsistensi menjalankan politik kerakyatan.
Oleh sebab itu, berbagai narasi yang menyebut partainya sebagai dalang di balik aksi mahasiswa tidak akan mengubah arah perjuangan partai.
"Karena yang penting adalah kesetiaan pada jalan politik kerakyatan, meskipun itu membawa suatu risiko-risiko politik dituduh menjadi dalang demo dan sebagainya," ujarnya.
Disampaikan Hasto, dalam sistem demokrasi, kritik dari mahasiswa maupun masyarakat sipil seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme pengawasan terhadap kekuasaan. Pemerintah, kata dia, wajib mendengarkan suara kritis tersebut.
"Bagi kami kekuasaan politik di mana pun di dunia ini harus mendengarkan suara-suara kritis, harus mendengarkan suara rakyat karena power tends to corrupt," tegasnya.
Apalagi, ketika hak warga negara untuk menyampaikan pendapat dan berserikat telah dijamin konstitusi. Oleh sebab itu, kritik yang muncul dari kampus maupun kelompok masyarakat lainnya seharusnya dijawab secara terbuka dan kelembagaan, bukan dengan upaya delegitimasi.
Dalam kesempatan ini, Hasto turut menyinggung polemik mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang mengaku menerima uang. Mahasiswa-mahasiswa tersebut sempat bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana di tengah demo.
Baca Juga: PDIP Kritik Pernyataan Prabowo soal Demo Bayaran, Dinilai Bernada Ancaman ke Rakyat
Ia menilai kasus tersebut menunjukkan adanya potensi kepentingan politik yang mencoba memengaruhi gerakan mahasiswa.
"Ya kalau kita lihat penggunaan gerakan-gerakan mahasiswa untuk kepentingan politik kan banyak terjadi. Peristiwa '65, gerakan mahasiswa juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik akibat Perang Dingin," ujarnya.
Meski demikian, Hasto menegaskan PDIP tetap meyakini idealisme mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam demokrasi. Maka dari itu, setiap dugaan penunggangan gerakan mahasiswa perlu ditindaklanjuti agar ruang kritik yang lahir dari kampus tetap terjaga.
"Ini harus segera ditindaklanjuti agar kemurnian gerak mahasiswa dengan gagasan-gagasan yang konkret, ya dan juga sebagai latihan di dalam proses kaderisasi kepemimpinan nasional, mereka harus diberikan suatu ruang," tandasnya.
Ia menambahkan, tugas pemerintah maupun partai politik adalah mendengarkan kritik yang berkembang di masyarakat dan menjawabnya melalui mekanisme yang institusional.
"Tugas pemerintahan negara, termasuk partai politik, termasuk PDI Perjuangan untuk mendengarkan kritik dan kemudian melakukan suatu jawaban-jawaban secara kelembagaan agar tujuan bersama di dalam membangun demokrasi yang berkeadilan sosial itu betul-betul bisa kita wujudkan," ujarnya.
Berita Terkait
-
PDIP Kritik Pernyataan Prabowo soal Demo Bayaran, Dinilai Bernada Ancaman ke Rakyat
-
Mahfud MD Tantang Prabowo Buka-bukaan: Siapa yang Bayar Demo Mahasiswa?
-
Ketika Wapres Gibran Bicara AI: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Rakyat?
-
Geger Suap BEM FH UBK, Tiyo Singgung Pernyataan Prabowo: Mungkin Beliau Tidak Hanya Tahu
-
6 Fakta Skandal BEM FH UBK Mengaku Dapat Uang 'Pelicin' dalam Demo Mahasiswa
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!