- Ketua BEM FH UBK mengakui menerima dana sebesar Rp300 juta untuk memobilisasi massa demonstrasi mahasiswa baru-baru ini.
- Tiyo Ardianto mengaitkan aliran dana tersebut dengan pernyataan Presiden Prabowo mengenai pihak yang mendanai aksi demonstrasi.
- Tiyo menilai mobilisasi massa untuk mendukung pemerintah mencerminkan strategi politik pecah belah dan kepanikan pihak istana.
Suara.com - Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menanggapi mencuatnya dugaan aliran dana kepada mahasiswa yang belakangan ramai diperbincangkan publik.
Dugaan aliran dana sebesar Rp300 juta itu menyeret Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) memicu gelombang kritik dari sejumlah pihak.
Skandal ini terungkap setelah Ketua BEM FH UBK mengakui telah menerima uang muka sebesar 20 persen.
Tiyo kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo yang mengaku mengetahui pihak-pihak yang membiayai demonstrasi.
Menurut Tiyo, pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru mengenai pihak yang berada di balik dugaan mobilisasi massa dalam sejumlah aksi.
Ia bahkan menduga pihak yang mengetahui praktik tersebut bisa jadi memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pembiayaan demonstrasi.
"Kemarin itu Pak Prabowo pidato. Beliau sampaikan bahwa beliau tahu siapa yang bayar-bayar demo. Mungkin beliau tidak hanya tahu, tapi beliaulah bagian yang terlibat untuk membayar demo-demo itu," kata Tiyo ditemui di UGM, Kamis (25/6/2026).
Tak hanya itu, Tiyo turut menyoroti fenomena mobilisasi massa untuk mendukung program pemerintah merupakan hal yang tidak lazim dalam praktik demokrasi.
"Baru kali ini loh ada program yang dibela mati-matian sampai ada mobilisasi massa untuk mendukung programnya," ucapnya.
Baca Juga: 6 Fakta Skandal BEM FH UBK Mengaku Dapat Uang 'Pelicin' dalam Demo Mahasiswa
Ia berpandangan kemunculan kelompok-kelompok yang secara aktif membela program pemerintah di tengah derasnya kritik publik menunjukkan adanya kegelisahan dari lingkar kekuasaan.
Apalagi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang banyak menuai kritikan.
"Saya kira ini sebenarnya ekspresi kepanikan istana di dalam merespons banyak sekali kritikan pada MBG dan ini wajah dari pemerintahan yang sebenarnya sangat kolonial," ujarnya.
Lebih lanjut, Tiyo menilai pola yang muncul saat ini mengingatkannya pada strategi politik pecah belah yang kerap digunakan dalam pemerintahan kolonial. Menurutnya, polarisasi sengaja diciptakan dengan mempertentangkan kelompok masyarakat satu dengan yang lain.
"Ciri pemerintahan kolonial itu kan devide et impera. Mereka senang mengadu domba," ujarnya.
Kondisi tersebut terlihat dari munculnya pertentangan antarkelompok masyarakat maupun mahasiswa dalam merespons berbagai kebijakan pemerintah. Tiyo menilai situasi itu menjadi potret bagaimana kritik publik dihadapi dengan membangun konflik horizontal.
"Hari ini rakyat diadu domba, mahasiswa versus mahasiswa, rakyat versus rakyat. Bagi saya ini potret yang menunjukkan kepanikan, sekaligus karakter pemerintahan kolonial yang sampai hari diwarisi oleh pemerintahan nasional," tandasnya.
Berita Terkait
-
6 Fakta Skandal BEM FH UBK Mengaku Dapat Uang 'Pelicin' dalam Demo Mahasiswa
-
Ada Upaya 'Jurang Pemisah' Prabowo-Gibran? Gerindra Buka Suara Soal Isu Suap BEM UBK
-
Demo Mahasiswa di Patung Kuda Memanas, Orator Teriak Minta Massa dan Polisi Mundur
-
Suap Mahasiswa UBK Viral, Terseret Nama 'Kapolda' dan Aliran Dana Rp20 Juta
-
Dosen UGM Soroti Ketua BEM UBK Kena Suap: Cara Busuk Pertahankan Kekuasaan
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Polda Metro Dalami Legalitas Ekskul Menembak Terkait 995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel
-
Mengaku Pencinta K-Pop, tapi Gagap saat Berhadapan dengan Kebudayaan Sendiri
-
3 Bedak Padat untuk Usia 40-an: Bisa Samarkan Kerutan Halus, Makeup Jadi Mulus
-
Pajak EGR Dinilai Bikin Transaksi Emas Elektronik Seret, Airlangga Turun Tangan
-
Polisi Klaim 995 Pistol di Ruang Kerja Eks Ketua Yayasan Sekolah Jaksel Bukan Senpi
-
Kalau Standarnya Cuma "Daripada Dikorupsi", Semua Program Terlihat Bagus
-
Bursa Kripto CFX10 Melesat, Bitcoin dan Ethereum Naik
-
Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
-
Kala Lapar Bertemu Deadline Kerjaan Tanpa Ampun, Lahirlah Kutukan 'Hangry'
-
Pemerintah Ubah Sebutan Pemulung Jadi 'Pemilah Sampah', Bakal Jadi Profesi Terlindungi