- Pengamat politik Zuly Qodir menilai safari politik Jokowi bersama PSI bertujuan memperkuat pengaruh politik dan mengamankan kepentingan oligarkinya.
- Strategi Jokowi menyasar peningkatan elektabilitas PSI yang dipimpin putranya guna menjaga dominasi kekuasaan pada Pemilu 2029 mendatang.
- Praktik politik uang melalui pola blusukan dinilai efektif karena rendahnya kesadaran politik masyarakat yang cenderung bersifat transaksional.
Suara.com - Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat posisi partai tersebut menjelang Pemilu 2029.
Menurutnya, langkah itu tidak hanya bertujuan mendongkrak elektabilitas PSI. Lebih dari itu, Jokowi disebut ingin mempertahankan pengaruh politik dan ekonomi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
Zuly mengatakan Jokowi masih meyakini dirinya memiliki pengaruh kuat terhadap pemilih.
Oleh sebab itu, ia menilai Jokowi berkepentingan memastikan PSI yang kini dipimpin putranya mampu meraih suara besar pada pemilu mendatang.
"Karena itu anaknya sebagai ketua PSI, maka ya dia tidak mau dong ketinggalan kalau nanti partai anaknya itu tidak mendapatkan suara," kata Zuly kepada Suara.com, Senin (29/6/2026).
Belum lagi, ia yang menyoroti adanya perpindahan sejumlah tokoh politik ke PSI. Hal tersebut dinilainya sebagai bagian dari upaya memperkuat mesin partai sekaligus menjaga dominasi politik dan kepentingan oligarki Jokowi.
"Ini salah satu hal yang menurut hemat saya, bagaimanapun Jokowi dalam rangka mengamankan suara anaknya dan mengamankan oligarki yang saat ini sudah dibangun selama 10 tahun sebelumnya," ujarnya.
Zuly menilai pola safari politik yang dilakukan dengan mendatangi masyarakat berpotensi disertai praktik politik uang.
Menurutnya, cara seperti itu masih dianggap efektif selama masyarakat memilih berdasarkan imbalan materi, bukan pertimbangan rasional terhadap kualitas calon maupun partai.
Baca Juga: Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja
"Datang ke masyarakat macam-macam itu bukan datang sembarangan loh itu. Itu datang dengan membawa duit atau dengan membawa modal yang nanti akan dibagi-bagikan. Salah satunya adalah membagikan modal, membagikan uang kepada masyarakat, lalu kemudian nanti masyarakat simpati," ungkapnya.
Lebih jauh, kata Zuly, persoalan utama terletak pada rendahnya kesadaran politik masyarakat.
Kondisi tersebut membuat praktik politik transaksional terus bertahan dan membuka ruang bagi elite politik untuk mempertahankan kekuasaannya.
"Kok bisa-bisanya ya dengan secepat kilat masyarakat itu menerima saja orang yang datang ke mana-mana membawa duit lalu memilih partainya atau memilih partai-partai yang memberikan duit. Itu artinya memang kesadaran politik masyarakat kita itu sangat rendah, tidak kritikal. Tidak kritis," tandasnya.
Terkait pola blusukan masih akan efektif apabila budaya politik patron-klien dan paternalistik tetap mengakar.
Namun, ia menilai keuntungan dari pola tersebut hanya akan dinikmati segelintir elite, sementara masyarakat kembali menjadi objek mobilisasi politik.
Pihaknya mengingatkan praktik semacam itu pada akhirnya dapat merusak kualitas demokrasi Indonesia.
Media, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat sipil diajak untuk meningkatkan pendidikan politik agar masyarakat menjadi pemilih yang lebih kritis.
"Ya blusukannya (Jokowi) orang akan melihat, semuanya sudah tahu sih sebetulnya bahwa itu blusukan tipu-tipu. Tapi kan tadi, masyarakat kita tuh gampang amnesia, pelupa, yang penting dibayar, selesai urusan. 'Ah daripada enggak dapat apa-apa, lebih baik milih yang membayar', kan begitu?" tandasnya.
Berita Terkait
-
Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja
-
Naik Pitam! Roy Suryo Semprot Pendukung Jokowi yang Mau Intervensi Sidang Praperadilan
-
Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa
-
Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
-
Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet
-
Uang Saku MagangHub II Tembus Rp6 Juta! Kemnaker Buka Jalur Profesi dan Fokus Pemerataan di Daerah
-
Siapkan Bukti Video, Roy Suryo Serang Balik Prosedur Polisi Lewat 3 Poin Praperadilan
-
Mobil Boks di Bekasi Terobos Lampu Merah Hingga Tabrak 5 Motor, Satu Pemotor Tewas
-
Dalih Bobot 170 Kg Bikin Razman Dapat Sel 'Mewah', Hotman Paris Somasi Kalapas Cipinang!
-
Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja
-
1.000 Orang Meninggal karena Panas Ekstrem di Prancis. Kebanyakan Orang Tua di Rumah
-
Naik Pitam! Roy Suryo Semprot Pendukung Jokowi yang Mau Intervensi Sidang Praperadilan
-
Dibalik Mandatori Biodiesel Sawit B50, Potensi Deforestasi Setara 22 Kali Luas Jakarta Mengintai
-
Tragedi Latsarmil Kopdes, Komnas HAM Didesak Investigasi Program Pemerintah Berpotensi Langgar HAM