News / Nasional
Selasa, 30 Juni 2026 | 22:08 WIB
Ilustrasi Jokowi saat menjalani ritual Miso Kibau atau menginjak kepala kerbau di Lampung. [Suara.com/Emma]
Baca 10 detik
  • Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjalani ritual adat Mesol Kibau dengan menginjak kepala kerbau di Lampung pada Sabtu, 27/6/2026.
  • Ritual tersebut merupakan bagian sakral penobatan gelar pemimpin adat tertinggi untuk melambangkan pengendalian diri dan pengabdian seorang pemimpin.
  • Polemik muncul di media sosial karena ritual ini dikaitkan dengan simbol politik, namun pakar menegaskan itu hanyalah tradisi budaya.

Suara.com - Langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mendadak menjadi perhatian publik saat memasuki karpet merah dalam prosesi adat di Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Mengenakan pakaian adat Lampung lengkap, Jokowi berhenti sejenak di hadapan kepala kerbau yang telah diletakkan di atas hamparan karpet. Sesaat kemudian, ia menginjak kepala kerbau tersebut sebagai bagian dari rangkaian prosesi adat sebelum menerima gelar kehormatan tertinggi dari lima kerajaan adat di Lampung.

Potongan video berdurasi singkat itu kemudian menyebar luas di media sosial. Ada yang penasaran dengan makna ritual tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan dinamika politik nasional.

Di hadapan para tokoh adat, Jokowi menyampaikan apresiasinya atas penghormatan yang diberikan kepadanya.

"Saya menyampaikan rasa terima kasih terdalam kepada Yang Mulia Sultan Sekala Brak beserta seluruh jajaran tokoh adat. Saya sangat menghormati dan menghargai budaya yang terus kita jaga dan lestarikan bersama," ujar Jokowi.

Hingga prosesi selesai, belum ada penjelasan resmi dari Jokowi maupun panitia mengenai filosofi ritual menginjak kepala kerbau yang menjadi sorotan tersebut.

Ritual Injak Kerbau: Mesol Kibau

Mesol Kibau, atau ritual menginjak kepala kerbau, merupakan salah satu puncak prosesi sakral dalam upacara adat Cakak Pepadun masyarakat Lampung Pepadun, termasuk di wilayah Menggala.

Tradisi ini dilaksanakan secara khusus saat ritual Begawi, yaitu momen sakral penobatan seseorang untuk menyandang gelar pemimpin adat tertinggi (Penyimbang).

Kerbau yang dikorbankan bukan sekadar pelengkap pesta, melainkan simbol kemakmuran dan kesiapan fisik bagi sang calon pemimpin sebelum ia menduduki singgasana pepadun.

Baca Juga: Siap Adu Ahli, Polda Metro Jaya Tunggu Langkah Roy Suryo di Sidang Praperadilan Ijazah Jokowi

Secara filosofis, tindakan menginjak kepala kerbau ini mengandung makna mendalam tentang pengendalian diri bagi seorang pemimpin baru.

Ritual ini menyimbolkan tekad kuat sang Penyimbang untuk menundukkan dan membuang jauh-jauh sifat-sifat buruk kebinatangan, seperti ketamakan, keangkuhan, dan nafsu amarah.

Melalui Mesol Kibau, masyarakat adat menitipkan harapan agar pemimpin mereka kelak dapat memimpin dengan kebijaksanaan, mengayomi rakyat, dan senantiasa menjaga keharmonisan di tanah Lampung.

Dalam berbagai tradisi adat Nusantara, kepala kerbau juga kerap dimaknai sebagai simbol kekuatan, pengorbanan, kemakmuran, sekaligus perlambang sifat-sifat duniawi yang harus ditinggalkan ketika seseorang menerima amanah baru.

Ritual semacam ini lazim dijumpai dalam upacara adat besar dan umumnya diperuntukkan bagi tokoh yang menerima penghormatan tertinggi, seperti raja, pemimpin adat, kepala suku, maupun sosok yang dinilai berjasa bagi masyarakat.

Di balik prosesi tersebut juga tersimpan pesan moral bahwa setiap gelar kehormatan bukanlah simbol kebanggaan semata, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Ketika Ritual Adat Dibaca sebagai Simbol Politik

Infografis Jokowi menjalani ritual Miso Kibau atau menginjak kepala kerbau di Lampung. [Suara.com/Emma]

Namun, makna budaya itu perlahan bergeser setelah video prosesi tersebut ramai dibagikan di media sosial.

Sebagian warganet mengaitkan kepala kerbau yang diinjak Jokowi dengan simbol Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai yang pernah mengusungnya selama dua periode sebagai presiden.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira memilih menanggapi isu tersebut dengan santai. Ia mengaku tidak memahami secara mendalam filosofi ritual adat Lampung.

"Saya tak memahami adat istiadat Lampung. Terutama dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau," katanya.

Andreas pun menepis anggapan bahwa prosesi tersebut merupakan simbol penghinaan terhadap PDIP.

"Ha...ha...ha... Maaf ya, lambang PDIP itu bukan kepala kerbau, tapi banteng moncong putih. Jadi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh si penginjak dimaknai simbolisasi menghina PDIP ya ha...ha...ha..." ujarnya.

Respons berbeda datang dari Ketua DPP PSI Bestari Barus. Ia menilai polemik tersebut justru mengaburkan makna adat yang dijalankan masyarakat Lampung.

"Saya kira itu menghina adat budaya. Itu kan prosesi adat budaya Lampung. Mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapi secara bijak," kata Bestari.

Menurut Bestari, prosesi menginjak kepala kerbau merupakan tradisi turun-temurun kerajaan adat di Lampung sebagai simbol penghormatan kepada tamu agung maupun pemimpin. Karena itu, ia berharap ritual tersebut dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya, bukan semata-mata dibaca melalui kacamata politik.

Mendekati Tokoh Adat demi Elektoral?

Di tengah polemik yang berkembang, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga melihat safari politik Jokowi ke berbagai daerah belakangan memang memperlihatkan kecenderungan mendekati para tokoh adat.

Menurutnya, pendekatan kepada tokoh adat bukanlah hal baru dalam politik Indonesia. Hampir seluruh partai politik pernah melakukannya karena tokoh adat merupakan opinion leader yang memiliki pengaruh terhadap komunitasnya.

"Kalau Jokowi membawa panji-panji PSI mendekati tokoh adat, sama saja untuk meminta dukungan agar massa pendukungnya beralih ke partai berlogo gajah," kata Jamiluddin kepada Suara.com.

Ia menilai tujuan utama pendekatan tersebut adalah meningkatkan elektoral PSI. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada karakter pemilih yang menjadi pengikut tokoh adat.

Menurut Jamiluddin, pengaruh tokoh adat akan lebih besar terhadap kelompok pemilih emosional karena cenderung mengikuti arahan pemimpinnya. Sebaliknya, pengaruh tersebut relatif kecil terhadap pemilih rasional yang tetap menentukan pilihan politik berdasarkan pertimbangannya sendiri.

"Jadi, mendekati tokoh adat hanya akan efektif bila massa pendukungnya termasuk pemilih emosional. Untuk Indonesia, pemilih kelompok emosional jauh lebih besar daripada pemilih rasional," ujarnya.

Meski demikian, Jamiluddin menilai prosesi Jokowi menginjak kepala kerbau tidak tepat dimaknai sebagai sindiran politik kepada PDI Perjuangan.

Ia menjelaskan, dalam perspektif masyarakat Lampung, kepala dan tanduk kerbau merupakan simbol yang sakral. Keduanya melambangkan kemakmuran, kekuatan, status sosial, sekaligus penghormatan kepada leluhur sehingga menjadi bagian penting dalam prosesi pemberian gelar adat.

Sementara itu, prosesi menginjak kepala kerbau dimaknai sebagai simbol membuang sifat buruk, kerendahan hati, dan kesiapan seorang pemimpin untuk mengayomi masyarakat di bawah naungan adat.

Karena itu, menurut Jamiluddin, ritual yang dijalani Jokowi merupakan bagian dari tahapan penganugerahan gelar adat di Lampung, bukan simbol untuk menyindir atau membuka babak baru perseteruan politik dengan PDI Perjuangan.

Load More