- Dewan Transportasi Kota Jakarta mengusulkan skema tarif langganan bulanan untuk layanan Transjakarta guna meningkatkan minat penggunaan transportasi umum.
- Usulan tarif langganan tersebut memberikan potongan harga sebesar 20 persen bagi penumpang setia dari total biaya bulanan.
- DTKJ juga merencanakan paket langganan mingguan dan dua mingguan untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat yang lebih fleksibel.
Suara.com - Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan skema tarif langganan untuk layanan Transjakarta.
Usulan ini bertujuan mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum sekaligus memberi insentif bagi penumpang setia moda transportasi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.
Ketua DTKJ yang baru, Sugihardjo, menjelaskan skema tarif langganan itu mengadopsi sistem yang telah diterapkan di berbagai negara.
Menurut Sugihardjo, jika tarif normal disepakati Rp5.000 sekali perjalanan untuk Transjakarta Non BRT, BRT, dan Mikrotrans, pekerja yang bepergian pulang-pergi setiap hari kerja selama sebulan harus mengeluarkan sekitar Rp250 ribu.
Dengan skema langganan, DTKJ mengusulkan potongan harga sebesar 20 persen dari total biaya bulanan tersebut.
"Nah, kalau menggunakan tarif langganan, kami mengusulkan ada diskon 20 persen sehingga cukup membayar Rp200 ribu,” kata Sugihardjo di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Sugihardjo mengungkapkan, usulan tersebut mendapat sejumlah masukan dari peserta saat uji publik digelar.
Salah satu masukan yang muncul terkait asumsi jumlah hari kerja yang digunakan dalam perhitungan tarif bulanan.
Sebagian peserta uji publik menilai rata-rata hari kerja hanya berkisar 20 hingga 22 hari per bulan, bukan 25 hari seperti yang dipakai DTKJ.
Baca Juga: Wajah Baru Halte Patra Kuningan 2 Ternoda Vandalisme, Begini Respons Transjakarta
Meski menerima masukan tersebut, DTKJ tetap menggunakan standar 25 hari kerja sebagai dasar penyusunan tarif langganan bulanan.
Sebagai solusi atas perbedaan pola mobilitas masyarakat, DTKJ mengusulkan paket langganan dengan durasi lebih pendek, yakni satu atau dua pekan, yang ditujukan bagi wisatawan maupun pengguna dengan mobilitas yang lebih fleksibel.
“Tarif langganan mingguan atau dua mingguan juga akan kami usulkan. Tetap ada potongan harga, meski kemungkinan besar tidak sebesar paket bulanan. Besarannya masih akan dibahas,” pungkas Sugihardjo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Catatan Kritis DPR Soal Rencana Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat
-
Dukung Liga Akar Rumput, Kadispora DKI Intruksikan Sudin Fasilitasi Talenta Sepak Bola Jalanan
-
Anak Disabilitas Psikososial Alami Hambatan di Sekolah, Apa yang Salah?
-
Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi
-
Kemenkes Soroti Lemahnya Sistem Perlindungan Nakes usai Dugaan Intimidasi dr. Icha
-
Tarif Transjakarta Diusul Rp 5.000, Transjabodetabek Rp 10.000
-
Bukan yang Pertama! Polisi Duga Ada Korban Penyekapan Lain di Percetakan Senen
-
Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!
-
Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR