News / Nasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 12:51 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mempertanyakan isu mengenai pengadaan 1,8 juta unit kipas angin di Kopdes. (tangkap layar)
Baca 10 detik
  • Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mempertanyakan isu pengadaan 1,8 juta unit kipas angin senilai Rp1,8 triliun.
  • Pertanyaan tersebut disampaikan kepada Menteri Koperasi Ferry Juliantono dalam rapat kerja di Senayan pada Rabu, 15 Juli 2026.
  • Menteri Koperasi membantah keterlibatan kementeriannya dalam proyek pengadaan kipas angin tersebut dan menekankan pentingnya transparansi sistem digital.

Suara.com - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mempertanyakan isu mengenai pengadaan 1,8 juta unit kipas angin dengan total nilai mencapai Rp1,8 triliun untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Hal tersebut disampaikan Mufti dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026) kemarin. 

Dalam rapat tersebut, Mufti Anam meminta klarifikasi langsung kepada Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengenai kebenaran informasi yang menurutnya tengah menghebohkan masyarakat. 

"Izin ke Bapak Menteri. Hari ini rakyat sedang dihebohkan dengan isu adanya pengadaan kipas angin 1,8 juta yang nilainya 1,8 triliun. Lalu kemudian dari isu ini kami coba mencari informasi, tapi kami tidak dapat satu informasi pun dari pemerintah adanya pengadaan ini. Kami juga mencari informasi ke pihak-pihak terkait juga tidak berani jawab. Nah, maka pada kesempatan ini kami ingin tanya kepada Pak Menteri, isu soal pengadaan 1,8 juta kipas angin dengan anggaran 1,8 triliun itu betul tidak, Pak?" ujar Mufti Anam. 

Mufti kemudian membandingkan harga tersebut dengan harga pasaran di platform belanja daring (e-commerce). 

Ia menyebutkan bahwa harga satuan kipas angin jauh di bawah asumsi Rp1 juta per unit jika merujuk pada total anggaran tersebut. 

"Saya tadi pagi coba membuka e-commerce. Ada kipas angin, saya tidak mau yang tidak terkenal, yang selama ini dipakai rakyat kita saja, namanya Cosmos. Ini kipas angin Cosmos di e-commerce, yaitu kipas angin di e-commerce official store-nya milik Cosmos, itu harganya Rp338.000, Pak, ya kan, Rp338.000. Lalu kemudian kalau Bapak bisa cek di Shopee, di Tokopedia, harganya lebih murah lagi, Pak, hanya Rp300.000-an kan. Itu kalau beli satuan," katanya. 

"Artinya kalau pemerintah beli dalam jumlah ribuan, ratusan, bahkan 1,8 juta begitu, artinya pastinya akan jauh lebih murah dari Rp300.000 yang kita temukan di Shopee dan Tokopedia. Itu kipas angin yang standing loh, Pak. Yang hembusan anginnya bisa mungkin bisa apa? Menghempaskan tikus-tikus di KDMP begitu," lanjutnya. 

Mufti pun mendesak rincian jika proyek tersebut benar-benar ada. 

Baca Juga: Tak Perlu AC! Ini 4 Kipas Angin Meja Terbaik yang Adem, Senyap, dan Hemat Listrik

"Nah, maka pertanyaannya, kalau memang pengadaan ini betul, Pak Menteri, itu kipas anginnya mereknya apa? Spesifikasinya apa? Dan kemudian dibelinya di mana, Pak Menteri?" tegasnya. 

Merespons hal tersebut, Menteri Koperasi Ferry Juliantono membantah bahwa proyek pengadaan itu berada di bawah kementeriannya. 

Ia juga memberikan ilustrasi mengenai perbedaan harga kipas angin berdasarkan spesifikasinya. 

"Soal kipas angin ini saya enggak tahu. Ini kalo pengadaannya bukan kami, Pak. Tapi rasanya angka yang yang ada itu kalau bentuk kipas anginnya yang model ada di Imatsu MDF itu harganya di Shopee ini 11.465.000. Tapi itu, saya enggak tahu persis," jawab Ferry. 

Lebih lanjut, Menkop menekankan pentingnya transparansi melalui sistem digital Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (Simkopdes) untuk memantau pengadaan barang di masa mendatang. 

"Tapi itu saya gak tahu persis. Itu mengenai dashboardnya pak, memang di situ lah pentingnya sistem informasi manajemen koperasi desa karena nanti itu akan diperlihatkan semuanya dan dashboardnya bisa diakses siapa pun untuk melihat termasuk juga proses perencanaan pengadaan sampai juga dengan implementasi programnya pak," pungkasnya.

Load More