News / Internasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 13:19 WIB
Serangan udara brutal Israel menghantam area permukiman Gaza Tengah di tengah perintah pengosongan paksa. (Al Jazeera)
Baca 10 detik
  • Serangan udara Israel menghantam permukiman padat di Maghazi dan Deir el-Balah, Gaza Tengah.

  • Militer Israel mengeluarkan empat perintah pengosongan paksa hanya dalam waktu dua jam.

  • Gempuran tetap terjadi meski ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.

Suara.com - Pasukan udara Israel meluncurkan gelombang serangan baru yang menghancurkan kawasan permukiman di wilayah tengah Jalur Gaza. Agresi mematikan ini terjadi seketika setelah militer mengeluarkan instruksi pengusiran paksa bagi penduduk setempat.

Sebuah rumah tinggal di wilayah Maghazi menjadi sasaran langsung dari bom yang dijatuhkan jet tempur. Ledakan tersebut memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga yang tengah bersiap mengungsi.

Di lokasi terpisah, pusat kota terbesar di Gaza Tengah yaitu Deir el-Balah juga tidak luput dari gempuran. Serangan udara yang menyasar gedung apartemen di sana menyebabkan dua orang warga sipil mengalami luka parah.

Puluhan siswa Palestina di desa Umm al-Khair, yang terletak di kawasan Masafer Yatta, Tepi Barat bagian selatan, ditembak gas air mata oleh Israel. [Middle East Monitor]

Eskalasi situasi di lapangan berjalan sangat cepat dan mencekam bagi jutaan pengungsi. Pihak militer Israel tercatat melayangkan sedikitnya empat kali perintah pengosongan paksa hanya dalam kurun waktu dua jam.

Tekanan psikologis dan fisik ini memaksa ribuan keluarga meninggalkan tempat bernaung tanpa arah tujuan yang aman. Ruang gerak masyarakat sipil di wilayah tengah kini semakin menyusut akibat kepungan mortir.

Rentetan serangan terbaru ini menjadi bukti nyata abainya Israel terhadap upaya perdamaian yang diupayakan dunia internasional.

Operasi militer terus berjalan tanpa henti di seluruh penjuru koridor Gaza.

Kondisi ini terjadi padahal kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas sudah ditandatangani pada Oktober lalu melalui mediasi Amerika Serikat. Namun, komitmen penghentian kekerasan tersebut justru berulang kali dilanggar di lapangan.

Sebagai latar belakang, wilayah tengah Gaza kini menjadi titik paling rentan karena menampung gelombang pengungsi dari wilayah utara dan selatan.

Baca Juga: Benjamin Netanyahu Ultimatum Iran: Berani Serang Kami, Balasan Akan Mengerikan!

Agresi yang terus berulang di Deir el-Balah dan Maghazi semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Load More