News / Nasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 15:13 WIB
Ilustrasi Pekerjaan yang cocok untuk zodiak Gemini. (Pexels/Antoni Shkraba)
Baca 10 detik
  • Kemdiktisaintek menekankan perlunya perguruan tinggi di Indonesia beradaptasi dengan cepat menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja hingga tahun 2030.
  • Laporan Future of Jobs 2025 memprediksi perubahan signifikan keterampilan kerja serta munculnya banyak profesi baru akibat perkembangan teknologi.
  • Pemerintah menargetkan penguatan tata kelola dan kualitas Perguruan Tinggi Swasta guna mencetak sumber daya manusia unggul bagi bangsa.

Suara.com - Perubahan kebutuhan dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan dinilai menjadi tantangan besar bagi perguruan tinggi di Indonesia.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengingatkan kampus harus mampu beradaptasi agar dapat menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengungkapkan, berdasarkan laporan Future of Jobs Report 2025, sekitar 39 persen keterampilan inti yang dimiliki pekerja saat ini diperkirakan akan berubah atau bahkan menjadi usang pada 2030.

Selain itu, laporan tersebut juga memproyeksikan akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta jenis pekerjaan yang ada saat ini diperkirakan hilang akibat perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri.

Menurut Fauzan, kondisi tersebut menjadi sinyal bagi perguruan tinggi untuk memperkuat kemampuan beradaptasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.

"Peradaban tidak pernah runtuh karena perubahan, tetapi karena gagal membaca perubahan. Maka, perguruan tinggi yang akan bertahan adalah perguruan tinggi yang adaptif dan bergerak sesuai dengan zamannya," kata Fauzan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (16/7/2026).

Fauzan mengatakan, tantangan tersebut juga dihadapi oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang selama ini memegang peran besar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia.

Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), sekitar 63 persen atau sekitar 2.713 perguruan tinggi di Indonesia dikelola oleh swasta. Sementara itu, lebih dari 4 juta mahasiswa menempuh pendidikan di PTS.

Karena itu, ia menilai penguatan kualitas dan daya adaptasi PTS menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja di masa depan.

Baca Juga: Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia

Ilustrasi pekerjaan content creator (Unsplash/Daiga Ellaby)

Fauzan menambahkan, pemerintah juga tengah memperkuat tata kelola pendidikan tinggi melalui pendekatan pembinaan yang lebih proporsional dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing perguruan tinggi.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kapasitas PTS secara efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan pendidikan tinggi tidak boleh dipandang sebagai sebuah bisnis semata, melainkan sebagai sarana mencetak sumber daya manusia unggul yang akan menentukan kemajuan bangsa.

Menurut Brian, perguruan tinggi perlu terus menghasilkan riset dan inovasi yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat sekaligus menjawab berbagai tantangan global.

"Pendidikan adalah untuk mencetak talenta unggul Indonesia yang akan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. Kalau kita bertahan dan melakukan inovasi, turbulensi yang dialami justru akan memperkuat kita," ujar Brian.

Load More