News / Internasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 15:24 WIB
Ilustrasi - Jet Tempur F-22 milik AS. (Anadolu)
Baca 10 detik
  • Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke tiga pangkalan militer Amerika Serikat.

  • Operasi militer IRGC menghancurkan fasilitas pertahanan strategis dan radar pengintai udara pasukan Washington.

  • Ketegangan memuncak dipicu oleh aksi balasan atas serangan terhadap fasilitas kemanusiaan anak-anak.

Suara.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan pesawat tanpa awak dan rudal balistik massal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Operasi militer berskala besar ini menghancurkan berbagai fasilitas vital, mulai dari pusat kendali udara hingga radar pertahanan udara milik pasukan AS.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Teheran memilih target-target strategis luar negeri secara simultan. Langkah agresif ini menandai eskalasi konflik terbuka yang langsung menyasar jantung pertahanan udara dan logistik militer Washington di kawasan tersebut.

Serangan di Bahrain menghantam Pangkalan Udara Sheikh Isa secara telak. Pasukan IRGC melumpuhkan stasiun pompa bahan bakar jet tempur serta radar pengintai udara di pangkalan tersebut.

Jet tempur Amerika Serikat (Anadolu)

Aksi ini meluncur sebagai balasan atas tindakan AS sebelumnya yang dinilai merugikan fasilitas kemanusiaan di wilayah perbatasan Iran. Konflik bersenjata ini dipastikan belum akan mereda dalam waktu dekat.

IRGC menegaskan komitmen mereka untuk terus melanjutkan perlawanan secara terbuka demi merespons agresi musuh. Melalui pernyataan resminya, kelompok militer tersebut menegaskan pertempuran berlanjut sebagai sinyal perang jangka panjang.

Tidak berhenti di Bahrain, gempuran rudal dan drone gabungan juga menyasar Ali Al Salem di Kuwait. Pusat komunikasi satelit serta sistem radar peringatan dini milik militer Amerika Serikat dilaporkan hancur total.

Dermaga militer AS di Ash-Shu'aybah juga menjadi sasaran penghancuran dalam operasi udara terkoordinasi ini. Teheran bersikap tegas untuk memotong jalur komunikasi dan pasokan logistik militer Washington di teluk.

Pihak Iran menyerukan pesan penolakan keras terhadap kehadiran pasukan asing di tanah Arab. Mereka mendesak masyarakat lokal untuk melakukan pengusiran terhadap seluruh militer Amerika Serikat yang saat ini ditempatkan di sana.

Iran juga menggunakan jalur perdagangan internasional strategis sebagai posisi tawar dalam konflik geopolitik ini. Blokade maritim diancam akan tetap diberlakukan selama ketegangan dengan Washington belum mereda.

Baca Juga: Maunya AS - Iran Damai, Tapi Wapres JD Vance Bingung

"Pembukaan Selat Hormuz bergantung pada berakhirnya kejahatan Amerika di kawasan ini," kata IRGC dikutip dari Al Jazeera.

Pangkalan Udara Azraq di Yordania turut menjadi sasaran amukan rudal balistik jenis Khyber-Shakan. Hantaman keras ini menyasar area penyimpanan jet tempur serta pusat komando baru milik Amerika Serikat untuk wilayah Asia Barat.

Operasi di Yordania ini diklaim sebagai pembalasan atas serangan AS terdahulu yang memicu evakuasi ratusan anak penderita kanker di Ahvaz. Selain itu, insiden mematikan di sebuah sekolah di Minab juga menjadi alasan kuat di balik serangan balasan ini.

Pihak militer Yordania memberikan respons cepat terhadap pelanggaran kedaulatan di wilayah udara mereka. Sistem pertahanan udara mereka dilaporkan berhasil mencegat delapan rudal yang ditembakkan oleh Iran pagi ini.

Krisis ini merupakan akumulasi dari rangkaian perseteruan bersenjata antara Washington dan Teheran yang melibatkan serangan udara timbal balik. Tuduhan pengeboman rumah sakit kanker anak dan fasilitas air bersih menjadi pemicu kemarahan pasukan paramiliter Iran.

Kini, wilayah Timur Tengah berada dalam ancaman konflik berkepanjangan yang berpotensi menyeret negara-negara sekitar ke dalam medan perang. Jalur diplomasi regional diuji secara ekstrem di tengah gempuran senjata berat yang terus membayangi kawasan.

Load More