IEA memperingatkan risiko fatal terhadap keamanan energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Blokade sejak 28 Februari menghentikan seperlima pasokan energi dunia yang melintasi selat.
Negara berkembang di Asia seperti Pakistan dan India menderita dampak ekonomi terparah.
Suara.com - Dunia kini menghadapi ancaman kelangkaan energi yang serius akibat tersumbatnya pengiriman pasokan minyak dunia melewati Jalur Selat Hormuz.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan situasi ini menuntut pemulihan lalu lintas logistik secara cepat demi menjaga stabilitas pasar global.
"Keamanan minyak masih menjadi isu kritis," cetus Fatih Birol dalam acara Council on Foreign Relations.
"Kita harus khawatir, dan saya khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan," tambah Birol menegaskan kecemasannya.
Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini biasanya menampung seperlima dari total distribusi energi dunia. Namun roda perdagangan di kawasan tersebut lumpuh total sejak pertempuran pecah pada 28 Februari lalu.
Tersendatnya pasokan bahan bakar berimbas buruk pada perekonomian lintas benua secara tidak proporsional. Birol menyoroti bahwa ketimpangan dampak ini sangat merugikan wilayah tertentu yang memiliki ketergantungan tinggi.
"Ini terutama Asia, karena Asia memperoleh 80 hingga 90 persen energi ini dari Selat Hormuz," urai Birol mengenai basis data distribusi.
Negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan ikut merasakan tekanan ekonomi yang berat. Meski demikian, hantaman paling telak justru dirasakan oleh negara-negara yang sedang berkembang.
Birol memaparkan bahwa Pakistan, Bangladesh, dan India menjadi korban yang menderita kerugian paling parah.
Baca Juga: Pagi-pagi Iran Kirim Rudal 'Kiamat' ke Kuwait dan Bahrain, Balas Dendam Serangan AS Semalam
Selat Hormuz merupakan urat nadi logistik minyak mentah paling vital di dunia yang menghubungkan produsen Timur Tengah dengan pasar global. Blokade total yang terjadi selama beberapa bulan terakhir dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di wilayah sekitarnya.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda ketegangan mereda sehingga memicu kekhawatiran kelangkaan energi yang berkepanjangan. Jika jalur ini tidak segera dibuka, inflasi dan krisis energi di berbagai negara berkembang diprediksi akan semakin memburuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Mulai Agustus, Kota Makassar Tinggalkan Sistem Open Dumping di TPA
-
Menang Dramatis! Argentina Siap Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
-
Prediksi Buruk Minyak Dunia Beberapa Minggu ke Depan, Menurut IEA
-
Agar Wanginya Tahan Lama, Pakai Parfum Sebaiknya Berapa Kali Semprot?
-
Pasang Implan Gigi? Pahami 4 Risiko Komplikasi yang Wajib Diantisipasi
-
11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
-
4 Kombinasi Bahan Serum untuk Flek Hitam Membandel, Memudarkan Lebih Cepat dan Efektif
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.982 per Dolar AS, S&P Jadi Penopang Utama
-
Video Pemuda di Bogor Siram Air Kencing ke Waria, Dalih Lakukan 'Bersih-bersih'
-
Geser Singapura, Hong Kong Jadi Investor Terbesar Indonesia pada Kuartal II 2026