News / Nasional
Jum'at, 17 Juli 2026 | 15:34 WIB
Para pengunjung menjajal batu cincin di salah satu outlet di Gedung Jakarta Gems Center (JGC) Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (16/7/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
Baca 10 detik
  • Jakarta Gems Center di Rawa Bening tetap beroperasi meski tren batu akik telah menurun sejak sepuluh tahun lalu.
  • Pedagang di lokasi tersebut bertahan menjual batu kristal dan satu warna yang memiliki basis peminat sangat loyal.
  • Harga jual batu akik mengalami penurunan drastis, dari belasan juta menjadi kisaran ratusan ribu hingga satu juta rupiah.

Realita pasar saat ini memang kontras. Alvin menjelaskan betapa drastisnya penurunan harga batu akik. Bacan, yang dulu menjadi primadona dengan harga selangit, kini jauh lebih terjangkau.

"Wah, dulu waktu lagi booming, nolnya nambah satu, Bang! (Bacan) kayak gini nih, dulu bisa Rp15 juta," katanya sembari menunjuk koleksi Bacan berukuran besar di etalasenya.

Kini, batu yang dulu dibanderol puluhan juta rupiah, harganya menyusut ke angka ratusan ribu hingga satu jutaan saja. Penurunan ini pun berdampak langsung pada omzet hariannya.

"Istilahnya dulu Rp5 juta, sekarang tinggal 1 juta," ungkapnya sambil menatap nanar deretan koleksinya.

Deretan batu cincin yang dijual di outlet milik Alvin, salah satu penjual batu cincin di Gedung Jakarta Gems Center (JGC) Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (16/7/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)

Saat ini, harga batu akik biasa dibanderol mulai dari Rp200.000. Untuk jenis Bacan bercorak, harganya berada di kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000. Sementara itu, kasta tertinggi tetap diduduki oleh Bacan kualitas kristal yang bersih dan solid, dengan harga Rp1.000.000 hingga Rp1.500.000 ke atas.

Bagi Alvin, harga adalah soal kualitas corak, ukuran, dan tingkat kebeningan (kristal). Meski pasar sedang lesu, ia tetap melihat harapan setiap kali ada satu atau dua pecinta batu yang mampir ke lapaknya.

"Namanya pasang surut, Bang. Kadang ramai, kadang sepi. Namanya dagang. Kalau pengen tahu banget ya harus hadir terus di sini biar tahu," ujarnya sembari menghela napas berat.

Di tengah tren yang melandai, JGC tetap berdiri bukan karena euforia sesaat, melainkan karena kesetiaan para pelakunya.

Ratusan cincin yang tertata rapi dan bongkahan batu mentah dalam wadah plastik adalah bukti bahwa ruang sosial dan ekonomi ini menolak untuk mati.

Baca Juga: Bikin Macet Parah! Satpol PP Jatinegara Tertibkan 43 PKL Ular hingga Anjing di Balimester

Load More