- FAMM Indonesia menilai narasi serangan terhadap kelompok gender merupakan strategi pengalihan isu.
- Organisasi tersebut menduga isu tersebut sengaja direkayasa untuk mengalihkan perhatian publik dari berbagai masalah krusial.
- Berbagai permasalahan mendesak yang disorot meliputi korupsi, tingginya angka PHK, hingga polemik kebijakan program pemerintah yang dinilai amburadul.
Suara.com - Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM) Indonesia menilai maraknya narasi yang menyerang kelompok ragam gender atau LGBTQ bukan sekadar persoalan diskriminasi.
Organisasi tersebut menduga isu itu sengaja diangkat untuk mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari korupsi, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga polemik program pemerintah.
Koordinator Nasional FAMM Indonesia, Ija Syahruni, mengatakan kemunculan narasi yang menjadikan kelompok ragam gender sebagai musuh patut dicurigai sebagai strategi pengalihan isu.
"Menjadikan keberagaman gender sebagai musuh itu hanyalah strategi untuk pengalihan isu dari kejahatan negara yang tampak nyata di depan mata kita ya. Di mana korupsi merajalela, intimidasi terhadap pembela HAM, pembunuhan, serangan, teror, itu secara masif juga kita lihat," kata Ija dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Menurut Ija, derasnya ujaran kebencian terhadap komunitas ragam gender tidak terjadi secara alami, melainkan patut diduga sebagai upaya memecah fokus kemarahan masyarakat.
"Ujaran kebencian yang masif ini terhadap komunitas ragam gender patut dicurigai sebagai rekayasa kelompok tertentu untuk memecah belah kemarahan publik dari situasi Indonesia saat ini," katanya.
Ia kemudian menyinggung sejumlah persoalan yang dinilai lebih mendesak untuk mendapat perhatian pemerintah. Mulai dari polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja.
"Kita melihat proyek MBG dan Koperasi Merah Putih yang begitu amburadul, di protes sana-sini, pejabat negara yang kehilangan martabak, di mana program hanya jadi lelucon konten kreator. Kita saat ini merasakan nilai tukar rupiah yang terus melemah, ini berdampak pada harga barang yang semakin tinggi," bebernya.
Ija juga menyoroti persoalan pengangguran, sulitnya akses lapangan kerja, belum meratanya layanan pendidikan dan kesehatan, hingga maraknya korban pinjaman daring.
Baca Juga: MBG Berpotensi Lebih Menguntungkan Tengkulak daripada Petani
"Pengurangan PHK, pengangguran massal karena sulitnya mengakses lapangan kerja, fasilitas layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan yang masih belum merata hingga ke pelosok desa, jeritan pinjaman online, ini sampai memakan korban nyawa," lanjutnya.
Di sisi lain, Ija menilai negara belum maksimal memberikan perlindungan kepada kelompok warga yang menjadi korban persekusi. Menurutnya, ancaman terhadap masyarakat bukan berasal dari keberagaman identitas maupun ekspresi gender.
"Ancaman sesungguhnya bukan datang dari keberagaman identitas, melainkan dari praktek korupsi, kebijakan yang amburadul, dan pengabayan terhadap hak warga," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Tutup Borok Korupsi dan PHK, Isu LGBTQ Diduga Cuma Strategi Pecah Fokus Kemarahan Publik
-
Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
-
Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
-
Wali Kota Minta Satpol PP Pekanbaru Segera Tertibkan Warung Remang-remang
-
The Upstairs Hadirkan Musik Enerjik dan Cerita Kehidupan Urban di Soundrenaline 2026
-
Dicecar DPR Soal Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp1,8 T, Menkop Tidak Tahu
-
Purbaya Salurkan Pinjaman Rp 65 Triliun ke 14,9 Juta UMKM
-
Purbaya Turunkan Bunga Pinjaman Usaha Mikro dari 22% ke 8%
-
Piala Dunia 2026: 4 Alasan Pertarungan Spanyol vs Argentina Patut Disebut Final Ideal
-
Hotman Paris Tak Paham Hukum! Klaim Penetapan Tersangka Febrie Harus Izin Presiden Dikuliti Boyamin