News / Nasional
Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi tabungan (magnific)
Baca 10 detik
  • Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko melaporkan penurunan simpanan rekening kecil sebesar Rp15 triliun di Jakarta pada Minggu, 2 Agustus 2026.
  • Simpanan rekening di atas Rp1 miliar justru mengalami peningkatan sebesar Rp236 triliun hanya dalam periode waktu satu bulan.
  • Tekanan pengeluaran rumah tangga dan rendahnya daya beli membuat masyarakat berpenghasilan kecil semakin terbatas kemampuannya dalam menabung.

Suara.com - Jumlah uang yang disimpan masyarakat di rekening bernilai kecil dilaporkan menyusut, meski total dana simpanan di perbankan nasional terus bertambah. Kondisi ini dinilai menunjukkan semakin banyak masyarakat yang ingin menabung, tetapi kemampuan finansial mereka justru semakin terbatas.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko mengatakan, simpanan masyarakat di rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta berkurang sekitar Rp15 triliun hingga Mei 2026.

Sebaliknya, simpanan pada rekening bernilai di atas Rp1 miliar justru bertambah Rp236 triliun hanya dalam sebulan.

"Bahkan pertumbuhan simpanan per Mei 2026, dana pada kelompok rekening di atas Rp1 miliar bertambah Rp236 triliun secara bulanan. Sementara simpanan di bawah Rp100 juta justru berkurang sekitar Rp15 triliun," ujar Christiantoko di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan dana simpanan di perbankan lebih banyak berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi, sementara masyarakat dengan tabungan kecil justru semakin kesulitan menyisihkan uang.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta mencapai 98,90 persen dari total 682,1 juta rekening di Indonesia. Namun, seluruh rekening tersebut hanya menguasai 11,06 persen dari total simpanan perbankan.

Sebaliknya, rekening dengan saldo di atas Rp1 miliar yang jumlahnya hanya sekitar 0,12 persen dari total rekening justru menguasai 70,85 persen dari total dana simpanan di bank.

Christiantoko menilai kondisi itu sejalan dengan hasil Survei Konsumen dan Perekonomian LPS. Survei tersebut menunjukkan keinginan masyarakat untuk menabung masih tinggi, tetapi kemampuan mereka untuk benar-benar menyisihkan uang justru menurun.

"Data tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat kita sebenarnya masih memiliki kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk menabung. Namun, tekanan pengeluaran rumah tangga serta belum pulihnya daya beli membuat kemampuan mereka untuk menyisihkan pendapatan semakin terbatas," katanya.

Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur, Gimana Nasib Stabilitas Keuangan RI

Ia menambahkan, bertambahnya jumlah rekening bank tidak otomatis berarti kondisi keuangan masyarakat membaik. Hal itu menandakan, kemampuan masyarakat untuk menabung tidak serta merta meningkat.

Karena itu, Christiantoko menilai pertumbuhan dana simpanan perbankan belum bisa dijadikan indikator bahwa kondisi ekonomi rumah tangga telah membaik.

Oleh karena itu, tantangan penghimpunan DPK bukan sekadar menambah jumlah rekening atau mengejar pertumbuhan nominal simpanan. Tantangan yang lebih mendasar justru membuat lebih banyak masyarakat benar-benar memiliki uang yang dapat disisihkan dan ditabungkan. 

"Sebab, selama pertumbuhan simpanan masih bertumpu pada kelompok atas, maka kenaikan DPK belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa kondisi keuangan masyarakat telah membaik," tutupnya.

Load More