-
Iran membatalkan aksi serangan balasan terhadap Ukraina usai menerima permohonan maaf resmi.
-
Insiden penyerangan kapal kargo milik Iran terjadi di Laut Kaspia bulan lalu.
-
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran Mohsen Rezaee.
Kyiv Minta Maaf
Pemerintah Iran memutuskan untuk membatalkan rencana serangan balasan militer terhadap Ukraina. Langkah diplomasi ini diambil secara mendadak setelah otoritas Kyiv menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Keputusan Teheran ini menandai penurunan tensi geopolitik secara drastis di wilayah perairan strategis. Langkah pembatalan tersebut sekaligus membendung potensi eskalasi konflik baru yang dapat meluas di kawasan.
Kepastian pembatalan operasi militer tersebut dikonfirmasi langsung oleh pejabat senior di lingkaran inti kepemimpinan tertinggi Iran. Pernyataan resmi ini menghentikan spekulasi publik terkait ancaman aksi pembalasan yang sempat memanas.
Mayor Jenderal Mohsen Rezaee, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengatakan serangan balasan dibatalkan setelah Kyiv meminta maaf.
Sikap kooperatif dari pihak Ukraina dinilai mampu meredam kemarahan militer Teheran. Diplomasi singkat ini berhasil mencegah bentrokan bersenjata berlanjut.
Rencana pembalasan Iran sebelumnya dipicu oleh insiden penyerangan terhadap salah satu kapal kargo milik Teheran. Peristiwa penghadangan armada niaga tersebut terjadi pada bulan lalu di kawasan perairan Laut Kaspia.
Serangan terhadap aset maritim tersebut sempat memicu kemarahan publik dan elite militer di Iran. Pihak Teheran saat itu langsung menyiapkan opsi balasan militer ke wilayah Ukraina.
Namun, respons cepat Kyiv dalam meredakan situasi melalui jalur permohonan maaf mengurungkan niat gempuran tersebut. Langkah diplomasi ini dianggap menyelesaikan perselisihan akibat insiden perairan bulan lalu.
Baca Juga: Makin Runyam, Donald Trump Kembali Klaim Ambil Alih Hak Tarif Pelayaran Selat Hormuz
Dengan adanya kesepakatan damai ini, jalur pelayaran kargo di Laut Kaspia kini kembali relatif kondusif. Aktivitas perdagangan maritim dapat berjalan tanpa ancaman aksi balasan dari militer Teheran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
iPhone 18 Pro Max Terancam Langka, Harga Bisa Naik Rp5 Juta Akibat Krisis Memori Global
-
Pertama di Indonesia, Trading Saham dan Aset Kripto Kini Bisa Pakai AI
-
Berawal dari Posisi Duduk, Denny Indrayana Kirim Surat Terbuka 'Memecat Gibran' ke Prabowo
-
5 Mesin Cuci 1 Tabung yang Bagus dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp900 Ribuan
-
Disemprot Zulkifli Hasan Soal Sampah, Wali Kota Makassar Ungkap Kendala PSEL Makassar
-
BRI Kian Solid, Kuartal I 2026 Bukukan Setoran Kepada Negara 8,1 Triliun
-
Rudal Jelajah Ukraina FP5 Flamingo Buka Peluang Serang Iran, Jarak Luncur Sampai 3000 Km
-
Nasabah BRI Wajib Tahu! Ini Nomor Resmi Contact BRI agar Transaksi Tetap Aman
-
Mendagri Dorong Pemanfaatan Data Dukcapil untuk Percepat Digitalisasi Bansos di Biak Numfor
-
Pemerintah Indonesia Sinergi Lintas Sektor Bangun Ekosistem Kekayaan Intelektual