News / Nasional
Rabu, 05 Agustus 2026 | 11:51 WIB
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto. (Foto dok. IDI)
Baca 10 detik
  • Slamet menduga terjadi kegagalan sistem rumah sakit karena pasien Yusrizal harus menunggu delapan jam di IGD pada Rabu (5/8/2026).
  • IDI mengeluarkan permintaan resmi kepada Kemenkes agar segera melakukan audit menyeluruh guna menyelidiki penyebab keterlambatan penanganan medis tersebut.
  • Kasus ini mencuat setelah korban sempat mengeluhkan lambatnya pelayanan melalui media sosial sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.

Suara.com - Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto, menduga ada kecolongan dalam sistem pelayanan rumah sakit terkait kasus mendiang Yusrizal yang sempat mengeluhkan harus menunggu sekitar delapan jam di instalasi gawat darurat (IGD) sebelum mendapatkan ruang rawat inap.

Slamet mempertanyakan penyebab pasien harus menunggu hingga delapan jam lalu beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal.

Ia juga mempertanyakan apakah rumah sakit telah mampu mendeteksi kondisi kegawatdaruratan sejak awal.

"Ada dugaan, bahasanya kecolongan, kenapa pasien itu tidak segera ditangani. Kenapa sampai nunggu 8 jam? Apakah rumah sakit tidak bisa mendeteksi emergensi? Padahal sesuai ketentuan internasional, kalau emergensi dalam waktu beberapa menit harus sudah ditangani," kata Slamet kepada Suara.com, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, bila benar pasien yang mengalami kondisi gawat darurat harus menunggu selama itu, maka persoalannya bukan semata pada individu tenaga kesehatan, melainkan mengindikasikan adanya persoalan sistem pelayanan rumah sakit.

"Jadi ada kegagalan sistem di rumah sakit tersebut yang mungkin perlu diperbaiki ke depannya," ujarnya.

Karena itu, IDI meminta Kementerian Kesehatan turun tangan melakukan audit menyeluruh terhadap penanganan kasus tersebut agar penyebabnya dapat diketahui secara objektif.

"Kementerian Kesehatan sebagai institusi tertinggi di bidang kesehatan, regulasinya disempurnakan. Segera turunkan tim untuk melakukan audit," tegas Slamet.

Viral Komentar Tak Berempati ke Pasien BPJS. (kolase)

Ia menilai audit penting untuk mengungkap apakah keterlambatan terjadi karena kesalahan dalam sistem triase, keterbatasan kapasitas rumah sakit, atau faktor lainnya.

Baca Juga: Akses Layanan Kesehatan Program JKN Berikan Rasa Aman Bagi Emanuel Giai

"Kenapa pasien itu 8 jam baru ditangani? Kalau pasien non-emergensi mungkin masih bisa ditolerir. Jadi rumah sakit itu harus bisa memisahkan mana yang penting cepat ditangani, mana yang harus menunggu," pungkasnya.

Kejadian ini bermula dari unggahan Yusrizal di media sosial Threads yang mengaku harus menunggu sekitar delapan jam di IGD sebelum memperoleh ruang rawat.

Beberapa hari kemudian, Yusrizal dikabarkan meninggal dunia.

Unggahan itu kembali viral setelah beredar tangkapan layar komentar sejumlah akun yang dimetahui milik dokter maupun tenaga kesehatan yang dinilai tidak berempati terhadap keluhan pasien.

Load More