- Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menanggapi kematian pasien BPJS Yurizal pada Rabu 5 Agustus 2026.
- Yahya mendesak Kementerian Kesehatan untuk menegur tenaga kesehatan yang tidak berempati dan menginvestigasi rumah sakit terkait secara terbuka.
- Kasus bermula dari unggahan Yurizal pada 22 Juli mengenai kesulitan mendapat ruang perawatan yang mendapat komentar tidak berempati dari tenaga kesehatan.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, memberikan tanggapan tegas terkait kasus meninggalnya Yurizal, seorang pasien BPJS Kesehatan yang sempat viral di media sosial Threads.
Kasus ini memicu gelombang kritik publik setelah sejumlah tenaga kesehatan (nakes) diduga memberikan komentar yang tidak berempati terhadap keluhan almarhum saat kesulitan mendapatkan ruang perawatan.
Yahya menyampaikan, keprihatinan mendalam sekaligus memberikan sejumlah poin penekanan kepada pihak rumah sakit dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
"Pertama, saya menyatakan ikut berduka cita atas meninggalnya pasien tersebut. Kedua, para nakes dan tenaga medis harus memberikan layan terbaik kepada setiap pasien, termasuk pasien BPJS Kesehatan," ujar Yahya kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
Ia juga menyoroti kendala teknis di lapangan yang berdampak fatal bagi pasien.
"Ketiga, lamanya pasien menunggu perawatan menunjukkan buruknya pelayanan rumah sakit tersebut terhadap pasien yang memerlukam pelayanan secara cepat," ujarnya.
Lebih lanjut, Yahya mendesak Kemenkes untuk mengambil langkah konkret dan tegas terhadap oknum nakes yang mencederai etika profesi.
"Keempat, Kemenkes harus memberikan teguran keras kepada tenaga kesehatan dan tenaga medis yang tidak berempati kepada pasien apalagi terhadap pasien BPJS Kesehatan," katanya.
Lebih lanjut, Yahya mendesak Kemenkes untuk mengambil langkah konkret dan tegas terhadap oknum nakes yang mencederai etika profesi.
Baca Juga: Kasus Yusrizal Pasien BPJS: Ketika Empati Tak Bisa Ditawar dalam Profesi Dokter
"Kelima, Kemenkes harus memberikan teguran keras kepada tenaga kesehatan dan tenaga medis yang tidak berempati kepada pasien apalagi terhadap pasien BPJS Kesehatan," katanya.
Terkait kasus spesifik yang menimpa Yurizal, Yahya meminta adanya transparansi investigasi.
"Keenam, Kemenkes harus melakukan investigasi secara terbuka rumah sakit mana yang tidak memberikan pelayan dengan baik tersebut. Sehingga mengakibatkan pasien meninggal karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan etika bagi para tenaga medis di Indonesia.
"Ketujuh, Kemenkes harus memberikan edukasi kepada para tenaga kesehatan dan tenaga medis untuk memberikan pelayanan yg terbaik kepada setiap pasien serta berempati terhadap penderitaan yang dialami oleh setiap pasien di rumah sakit. Edukasi terkait etika menjadi sangat penting agar tenaga kesehatan dan tenaga medis tidak menyampaikan perkataan yang menyakiti pasien dan masyarakat pada umumnya. Profesi tenaga kesehatan dan tenaga medis merupakan profesi yang terhormat. Jadi mereka juga harus punya rasa hormat terhadap setiap pasien di rumah sakit," pungkasnya.
Kasus ini bermula dari unggahan Yurizal di akun Threads @yurizaltrich pada 22 Juli lalu, yang menceritakan pengalamannya kesulitan mendapatkan ruangan untuk berobat di sebuah rumah sakit.
Unggahan tersebut justru menuai komentar miring dari sejumlah akun yang diduga milik nakes.
Polemik itu semakin menjadi sorotan setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia. Sementara warganet mempertanyakan etika tenaga kesehatan dalam menyampaikan komentar di ruang digital.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
Terkini
-
Waspada! Modus Baru Judi Online Pakai QRIS, Deposit Rp5.000 Sasar Anak-anak
-
Geledah Kantor Imigrasi Jakpus dan Jaksel, KPK Sita 8.500 Dolar Singapura Terkait Kasus Silmy Karim
-
BPS: Pengangguran Sumsel Naik Jadi 3,60 Persen, Pertanian Tetap Serap Terbanyak
-
M3GAN: Perpaduan Unik Horor Fiksi Ilmiah dan Komedi Satire yang Cerdas!
-
Hakim Kabulkan 5 Saksi, Nadiem Optimistis Menang Banding
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Kita Tak Kekurangan Program Lingkungan, Kita Kekurangan Kebiasaan
-
AS Lipat Gandakan Produksi Komponen Interseptor Rudal PAC-3 dan THAAD
-
Persoalkan Uang Pengganti Rp809 Miliar, Nadiem Minta Hakim Banding Batalkan Vonis 10 Tahun
-
Koalisi Sipil Minta Audiensi dengan DPR, Desak Putusan MK soal MBG Segera Dieksekusi