News / Internasional
Rabu, 05 Agustus 2026 | 15:34 WIB
Starbucks harus ganti rugi
Baca 10 detik
  • Polisi menggeledah markas Starbucks Korea terkait promosi yang dinilai menghina pejuang demokrasi Gwangju.

  • Promosi tumbler Tank Day memicu kemarahan publik karena membangkitkan trauma penindasan militer 1980.

  • Buntut skandal pemasaran ini menyebabkan CEO dipecat dan pimpinan Shinsegae Group menyampaikan permintaan maaf.

Suara.com - Penyidik kepolisian Korea Selatan resmi menyita dokumen dari markas besar Starbucks Korea atas dugaan pelecehan sejarah. Langkah hukum ini merupakan buntut dari strategi pemasaran bermasalah yang menyinggung tragedi penumpasan militer Gwangju 1980.

Aparat hukum menduga promosi bertajuk "Tank Day" sengaja dirancang untuk mencederai kehormatan para pejuang demokrasi. Dugaan kesengajaan tersebut kini menjadi fokus utama penyelidikan setelah polisi menemukan indikasi kejanggalan pada evaluasi internal manajemen.

Langkah tegas markas kepolisian ini berawal dari aduan resmi organisasi kemasyarakatan terhadap bos Shinsegae Group, Chung Yong-jin.

Beberapa pria sedang menikmat starbucks 2L Beverage di rumah. [Gemini Ai]

Sebagai induk usaha E-Mart yang menguasai saham mayoritas Starbucks Korea, pimpinan korporasi tersebut dituding mencemarkan nama baik para korban beserta keluarga mereka.

Penyidikan meluas usai dokumen penggeledahan menetapkan Starbucks Korea sebagai pihak yang diduga melakukan penghinaan terbuka. Polisi kini terus mengumpulkan bukti untuk membuktikan keterlibatan jajaran manajemen dalam penyusunan materi iklan tersebut.

Sensitivitas publik meledak ketika perusahaan menjual paket tumbler berlabel "Tank" yang disertai slogan penutup "Letakkan di meja dengan bunyi 'Tak!'".

Penggunaan kata tersebut membangkitkan trauma mendalam masyarakat atas pengerahan armada lapis baja militer saat membantai pengunjuk rasa di Gwangju.

Frasa "Tak" dalam iklan tersebut juga dinilai memicu kenangan kelam atas tewasnya aktivis mahasiswa Park Jong-cheol pada 1987. Momen penyiksaan mahasiswa oleh aparat kepolisian kala itu menjadi pemantik utama gelombang perlawanan rakyat menuju era demokratisasi.

Gelombang protes massa langsung memaksa manajemen membatalkan seluruh rangkaian kampanye tersebut tak lama setelah diluncurkan.

Baca Juga: Heboh Kasus Pencabulan Anak SD Yatim Piatu di Sumut, Guru ASN Wajib Disanksi Berat jika Terbukti

Tidak berhenti di situ, tekanan publik yang masif berujung pada pemecatan posisi puncak pimpinan eksekutif Starbucks Korea.

Pemberontakan Demokrasi 18 Mei 1980 di Gwangju merupakan fondasi penting sejarah modern Korea Selatan yang memakan banyak korban jiwa warga sipil.

Kampanye pemasaran komersial yang mengaitkan istilah kendaraan tempur militer pada tanggal peringatan bersejarah tersebut dinilai melukai rasa keadilan masyarakat.

Atas gejolak yang merusak reputasi perusahaan tersebut, pimpinan tertinggi Shinsegae Group telah menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf secara terbuka. Meski demikian, proses hukum pidana atas dugaan pencemaran nama baik pejuang demokrasi tetap berlanjut di kepolisian.

Load More