-
Israel menolak 15 poin rencana perdamaian Gaza yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
-
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuntut perlucutan senjata Hamas sebelum penarikan militer dilakukan.
-
Netanyahu menegaskan tidak akan pernah mengizinkan pembentukan negara Palestina di Gaza maupun Tepi Barat.
Komitmen politik dalam negeri juga menjadi alasan utama penolakan skema pembentukan wilayah berdaulat baru bagi warga Palestina.
Netanyahu menjamin penutupan ruang bagi kemerdekaan wilayah jajahannya selama ia memegang kendali kekuasaan.
“Selama saya menjadi perdana menteri, tidak ada negara Palestina yang akan didirikan — tidak di Gaza dan tidak pula di Tepi Barat,” tegas Netanyahu.
Pernyataan bersikap keras ini keluar saat koalisi sayap kanan Netanyahu berada dalam posisi terdesak menjelang pemilu akhir Oktober.
Ia harus menjaga keseimbangan antara tekanan diplomasi AS dan tuntutan menteri radikal dalam kabinetnya agar tak memberi konsesi pada lawan.
Ketegangan geopolitik sempat meningkat lewat intensitas gempuran udara sesaat setelah dokumen kesepakatan dipublikasikan akhir Juli.
Meski demikian, gempuran armada tempur Israel di lapangan mulai berkurang dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Israel menegaskan doktrin pertahanan mandiri akan tetap menjadi fondasi utama kebijakan luar negeri mereka.
Penyerangan ke berbagai titik wilayah luar negeri menjadi bukti keseriusan Israel dalam mempertahankan kedaulatannya.
Baca Juga: Inggris Investigasi Aliran Dana Badan Amal ke Permukiman Ilegal Israel di Tepi Barat
“Berlawanan dengan semua pihak yang menceramahi kami, kami melakukan apa yang harus dilakukan demi keamanan Israel dan kami dapat serta akan mempertahankan posisi kami bahkan terhadap sahabat terbaik kami jika diperlukan,” ujar Netanyahu.
Krisis kemanusiaan ini memuncak pascaserangan mendadak kelompok Hamas ke wilayah Israel pada Oktober 2023 lalu.
Insiden tersebut memicu janji balasan dari Netanyahu untuk menumpas habis seluruh jaringan dan pengaruh Hamas di Gaza.
Sebagai bagian dari strategi keamanan kawasan, Israel juga melancarkan operasi militer agresif ke wilayah Lebanon dan Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Niat Minta Minum, Suami di Bandar Lampung Malah Pulang Bersimbah Darah
-
Novel Tanjung Luka, Pencarian Kebenaran di Tengah Prasangka Masyarakat
-
Cemburu Buta Suami di Banyuwangi Berujung Tragedi Minggu Pagi
-
Achilles Bidik Kebutuhan Bisnis dari Transaksi hingga Pendanaan
-
1.300 Penerbangan Dibatalkan karena Topan Dolphin di Shanghai
-
Mitos macOS Lebih Aman Runtuh: Riset Kaspersky Ungkap Pengguna Mac Lebih Rentan Terkena Malware
-
Cushion Glad2Glow Pink dan Silver, Apa Bedanya? Ini Kelebihan Masing-Masing
-
Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin
-
Selat Hormuz Siap Dibuka Jika AS Mau Bayar Kompensasi ke Iran, Berapa Nominalnya?
-
PLTA Garung Pasok Energi Bersih ke Sistem Jawa-Bali, Aliri Listrik 30 Desa