-
Israel menolak 15 poin rencana perdamaian Gaza yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
-
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuntut perlucutan senjata Hamas sebelum penarikan militer dilakukan.
-
Netanyahu menegaskan tidak akan pernah mengizinkan pembentukan negara Palestina di Gaza maupun Tepi Barat.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakan Israel terhadap proposal perdamaian Gaza yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Israel menetapkan syarat mutlak berupa pelucutan senjata penuh milisi Hamas sebelum menarik mundur seluruh pasukannya dari kawasan konflik.
Sikap keras ini menjadi babak baru yang menghambat terwujudnya gencatan senjata permanen di kawasan Timur Tengah.
Langkah tegas Tel Aviv mematahkan optimisme Washington yang sebelumnya mengklaim telah mencapai terobosan diplomasi.
Penolakan terbuka ini sekaligus menegaskan batas toleransi kompromi politik Israel terhadap sekutu utamanya.
Netanyahu secara eksplisit membatalkan skema perdamaian yang dirancang oleh tim negosiasi Gedung Putih.
Ia menegaskan tidak akan mengompromikan keamanan nasional hanya demi mengakomodasi usulan diplomatik pihak luar.
“Saya ingin memperjelas di sini: Israel menolak dokumen 15 poin tersebut,” tegas Netanyahu dikutip dari CNN Internasional, Senin (10/8/2026) pagi.
Pasukan militer Israel dipastikan bakal bertahan di posisinya sampai ancaman keamanan benar-benar bersih.
Baca Juga: Inggris Investigasi Aliran Dana Badan Amal ke Permukiman Ilegal Israel di Tepi Barat
Pemerintah menolak berkompromi soal keberadaan militer sebelum kelompok perlawanan menyerahkan seluruh persenjataannya.
“Kami tidak akan menarik diri sama sekali sampai Hamas benar-benar dilucuti energinya dan kami akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan dan warga kami,” ujar Netanyahu.
Komunikasi diplomatik antara Tel Aviv dan Washington saat ini masih berlangsung intensif untuk menjembatani perbedaan tersebut.
Israel memilih untuk menyaring poin kesepakatan yang masuk akal dan menolak mentah-mentah poin yang merugikan.
“Kami sekarang sedang mendiskusikan hal ini dengan orang-orang Amerika,” tambahnya.
“Mereka memiliki gagasan, beberapa di antaranya dapat kami terima dan beberapa tidak, dan kami tahu cara menghadapi hal-hal itu.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kala Lapar Bertemu Deadline Kerjaan Tanpa Ampun, Lahirlah Kutukan 'Hangry'
-
Pemerintah Ubah Sebutan Pemulung Jadi 'Pemilah Sampah', Bakal Jadi Profesi Terlindungi
-
Kasus Kematian Mantan Istri Anggota Polri, Komisi III DPR RI: Jangan Gegabah Simpulkan Bunuh Diri
-
Ribuan Pemilah Sampah di Bantargebang Kini Punya Jaminan Kerja
-
Waspada Potensi Bencana Alam di Jateng, Sarif Abdillah: Pelatihan Relawan Jangan Kendor!
-
Berbagi Kisah & Harapan: Ketika Menagih Pajak Tidak Sekadar Soal Angka
-
Hoaks Berseliweran di Medsos Jelang HUT RI, TNI Minta Warga Tak Mudah Terprovokasi
-
Polda Metro Periksa 24 Saksi Kasus Sutrimo, Status Kini Naik ke Penyidikan
-
Apa Tujuan Pakta Pertahanan Makkah yang Digagas Turki dan Arab Saudi?
-
Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki