News / Internasional
Senin, 10 Agustus 2026 | 14:26 WIB
Turki menegaskan Perjanjian Pertahanan Makkah atau Pakta Pertahanan Makkah yang melibatkan Arab Saudi dan Pakistan murni ditujukan untuk stabilitas regional. (SAP)
Baca 10 detik
  • Turki menegaskan Perjanjian Pertahanan Makkah tidak dirancang untuk menargetkan atau memusuhi Iran.
  • Aliansi militer tiga negara mengadopsi mekanisme pertahanan kolektif mirip pasal lima NATO.
  • Kesepakatan ini bertujuan membangun kemandirian keamanan kawasan tanpa bergantung pada kekuatan luar.

Fidan menyebut ruang keanggotaan terbuka lebar bagi negara lain yang memiliki visi sejalan.

“Di bawah visi presiden kami, kita tidak boleh terbatas pada tiga negara saja,” ungkap Fidan.

Ia melanjutkan dorongan ekspansi tersebut agar memayungi seluruh wilayah.

“Kita harus berkembang dan, jika perlu, membawa seluruh negara di bawah payung ini,” tuturnya.

Mesir diproyeksikan menjadi kandidat kuat berikutnya yang akan bergabung dalam aliansi ini. Proses bergabungnya Cairo tinggal menunggu penyelesaian beberapa kendala teknis yang masih dibahas.

Kesepakatan Makkah diresmikan pada 7 Agustus 2026 oleh Recep Tayyip Erdogan, Mohammed bin Salman, dan Shehbaz Sharif. Momen bersejarah ini berlangsung di tengah eskalasi konflik regional yang melibatkan serangan udara ke Iran sejak Februari 2026.

Konflik tersebut memicu rentetan serangan balasan kelompok milisi ke berbagai wilayah Teluk dan mengganggu jalur energi. Arab Saudi yang menghadapi ancaman dari berbagai penjuru mulai mencari bentuk jaminan keamanan baru.

Kerja sama ini melanjutkan perjanjian pertahanan bilateral antara Arab Saudi dan Pakistan pada September 2025. Masuknya Turki melengkapi integrasi industri militer dan kekuatan pertahanan ketiga negara di kawasan.

Baca Juga: 3 WNI Korban TPPO Dipulangkan! Sempat Tergiur Iming-iming Gaji ART Rp7 Juta di Turki

Load More