News / Nasional
Senin, 10 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Kerusakan alam (dok.Pexels/ Chris wade NTEZICIMPA)

Suara.com - Istilah "bencana alam" dinilai tidak boleh digunakan untuk menutupi faktor lingkungan dan kebijakan yang turut memperbesar risiko bencana.

Perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, Zakaria, mengatakan banjir, tanah longsor, kekeringan, abrasi, hingga bencana hidrometeorologi lainnya tidak semestinya dilihat sebagai peristiwa alam semata.

Menurut dia, sejumlah bencana berkaitan erat dengan kerusakan ekosistem dan tata ruang yang tidak memperhitungkan daya dukung lingkungan.

"Selama akar persoalan berupa kerusakan ekologis dan tata kelola lingkungan yang buruk tidak diselesaikan, bencana akan terus berulang," kata Zakaria.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam deklarasi pembentukan Desk Disaster WALHI Region Sumatera dan Jawa, yang menjadi ruang kolaborasi organisasi lingkungan dengan komunitas pecinta alam untuk menghadapi krisis ekologis dan risiko bencana.

Zakaria mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi kembali tata kelola ruang dan sumber daya alam. Kebijakan yang berpotensi memperbesar risiko bencana juga perlu dihentikan.

Selain pencegahan, menurut dia, mitigasi bencana perlu diperkuat dengan melibatkan masyarakat. Sementara dalam tahap pemulihan, pemerintah tidak cukup hanya mengembalikan kondisi fisik seperti sebelum bencana, tetapi juga perlu memulihkan ekosistem dan melindungi hak masyarakat terdampak.

"Kami mendesak pemerintah untuk menghentikan kebijakan dan praktik yang memperbesar risiko bencana. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas dan keadilan ekologis harus menjadi arah pembangunan," ujarnya.

Bencana yang Terus Dianggap Wajar

Baca Juga: Korban Gempa Bumi Venezuela Melonjak, 60 Ribu Orang Dirawat di Rumah Sakit

Perwakilan WALHI Sumatera Selatan, Suci Indah Sari, mengatakan persoalan ekologis semakin penting bagi generasi muda karena mereka hidup di tengah ancaman bencana yang terus berulang.

Ia mengkhawatirkan masyarakat mulai menganggap bencana sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan karena kondisi geografis Indonesia.

"Yang lebih mengkhawatirkan, publik perlahan dipaksa menerima kondisi ini sebagai sesuatu yang wajar, seolah-olah bencana hanyalah konsekuensi alamiah dari letak geografis Indonesia," kata Suci.

Padahal, menurut dia, banyak bencana yang terjadi saat ini berkaitan dengan kerusakan ekologis dan tata kelola lingkungan yang buruk.

Karena itu, Desk Disaster tidak hanya diarahkan untuk bergerak ketika bencana terjadi. Kelompok ini juga akan mengawal persoalan yang menjadi penyebab krisis ekologis, menyuarakan kepentingan masyarakat terdampak, serta mendorong keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam upaya mewujudkan keadilan ekologis.

Masyarakat sebagai Subjek

Load More