Desk Disaster WALHI Region Sumatera dan Jawa dibentuk untuk memperkuat kesiapsiagaan komunitas, mempercepat respons terhadap masyarakat terdampak, mendukung pemulihan pascabencana, sekaligus mengawal perubahan kebijakan.
WALHI menilai masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek utama dalam penanggulangan bencana. Pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan dan ruang hidupnya dinilai menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko.
Dalam deklarasi tersebut, peserta juga menyatakan solidaritas kepada sejumlah komunitas yang tengah mempertahankan ruang hidupnya, termasuk masyarakat di sekitar Gunung Gede Pangrango yang menghadapi ancaman pembangunan panas bumi (geothermal) serta masyarakat Papua yang menghadapi krisis ekologis.
Perwakilan WALHI Jambi, Wahdan Lubis, menilai penggunaan istilah "bencana alam" berpotensi mengaburkan akar persoalan sekaligus tanggung jawab negara dalam mencegah kerusakan lingkungan.
"Selama kerusakan ekologis terus dibiarkan dan pembangunan masih mengorbankan daya dukung dan tampung lingkungan, bencana akan terus diproduksi sebagai konsekuensi dari pilihan-pilihan kebijakan," ujarnya.
Sementara itu, Manager Pengelolaan Isu Bencana Ekologis WALHI Nasional, Melva Harahap, mengatakan pengurangan risiko bencana harus berjalan bersama perlindungan fungsi ekosistem dan pengetahuan lokal.
"Karena itu, dalam pemulihan fungsi ekosistem pemerintah juga harus memastikan setiap kebijakan pembangunan harus mengacu pada peta rawan bencana yang disusun secara partisipatif," katanya.
Bagi WALHI, penanganan bencana karena itu tidak cukup berhenti pada respons setelah kejadian. Mengurangi risiko juga berarti membenahi kebijakan dan praktik yang sejak awal dapat membuat masyarakat lebih rentan terhadap bencana.
Baca Juga: Korban Gempa Bumi Venezuela Melonjak, 60 Ribu Orang Dirawat di Rumah Sakit
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Prabowo Pilih Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Blak-blakan di Balik Keputusan Ini?
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Pasokan Semen Aceh Tertekan, SIG Perkuat Pabrik dan Distribusi
-
Karhutla 200 Hektare di OKI Belum Sepenuhnya Padam, Tim Kejar Ekor Api
-
Bukan Sekadar Jumpscare, Aghniny Haque Ungkap Horor Berbeda di "Bisikan Desa Gringsing"
-
Tak Berkutik! WN Nigeria Pembunuh Yonkeu Ferdinand di Pasar Baru Ditangkap 15 Menit Setelah Kejadian
-
Siasat Licik dari Karawang: Ribuan Liter Miras Cukai Fotokopi Tercegat di Bakauheni
-
Kang Edai, Penjaga Adaptasi Perubahan Iklim dari Desa Kemiren