-
Blokade Selat Hormuz memicu krisis keuangan parah yang menunda pembayaran gaji pegawai Irak.
-
Penurunan ekspor minyak hingga 97 persen memangkas pendapatan bulanan pemerintah Irak secara drastis.
-
Pemerintah Irak mengupayakan jalur ekspor alternatif dan mengandalkan cadangan devisa untuk bertahan.
Suara.com - Gaji PNS akan dipotong atau minimal terlabat karena Blokade Selat Hormuz. Blokade memicu krisis kas parah di Irak hingga mengancam pembayaran gaji jutaan pegawai negeri sipil atau PNS. Pemerintah Baghdad kini kehabisan dana segar akibat penurunan drastis volume ekspor minyak mentah.
Ketergantungan ekstrem pada jalur pelayaran tunggal melumpuhkan urat nadi perekonomian Irak secara mendadak. Dampak perang Iran kini merambat langsung ke kantong para pekerja publik di kota-kota besar seperti Mosul.
Penundaan gaji bulanan memaksa warga mengurangi pengeluaran harian demi bertahan menghadapi ketidakpastian ekonomi. Krisis finansial ini menelanjangi rapuhnya struktur anggaran negara yang terlalu bertumpu pada pendapatan minyak.
Seorang guru asal Mosul bernama Mahmoud Waleed mengaku gajinya terus terlambat cair selama tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuatnya cemas karena cicilan kewajiban finansial dan biaya hidup pokok terus menumpuk.
"Keterlambatan ini sangat memengaruhi Anda," kata warga lokal Mosul itu kepada DW.
"Seperti kebanyakan orang, kami memiliki kewajiban finansial serta biaya hidup mendasar. Kami makin yakin harus mengurangi pengeluaran dan menyisihkan dana darurat — hanya sampai situasi kembali normal. Ini membuat Anda sangat cemas dan takut."
Mengapa Irak Kehabisan Kas untuk Menggaji Pegawai?
Tenaga medis di Mosul bernama Ahmed mengeluhkan pencairan gaji bulanan yang terulur hingga lebih dari sepuluh hari. Pihak Kementerian Kesehatan beralasan bahwa arus kas negara sedang tidak mencukupi untuk memenuhi pembayaran tepat waktu.
"Masa depan terlihat lebih tidak pasti," tambah Ahmed, seorang dokter dari kota yang sama yang tidak ingin memberikan nama lengkapnya kepada DW karena alasan pribadi.
Baca Juga: Akhir Tragis Irak: Dulu Bantai Timnas Indonesia, Berakhir Bulan-bulanan di Piala Dunia 2026
"Bulan ini, gaji kami tertunda lebih dari 10 hari. Menteri Kesehatan menjelaskan negara tidak memiliki arus kas yang cukup dan itulah alasan penundaan tersebut. Namun kami tidak tahu berapa lama penundaan berikutnya."
Aksi demonstrasi berskala kecil mulai bermunculan pada awal Agustus sebagai bentuk protes atas keterlambatan honor. Gelombang unjuk rasa tersebut digerakkan oleh staf universitas serta para pekerja Kementerian Listrik di berbagai daerah.
Sekitar 85 hingga 90 persen anggaran nasional Irak menggantungkan nasibnya pada hasil penjualan minyak bumi. Di saat bersamaan, dua pertiga dari 30 juta penduduk usia kerja menggantungkan hidup pada sektor publik.
Pemerintah Irak membutuhkan dana sebesar 6,5 miliar hingga 8,2 miliar dolar AS setiap bulan untuk gaji dan tunjangan. Angka fantastis tersebut dialokasikan secara rutin untuk membiayai belanja gaji pegawai, pensiun, dan jaminan sosial.
Seberapa Parah Blokade Selat Hormuz Memukul Ekspor Minyak?
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari melumpuhkan hampir seluruh rute ekspor utama minyak Irak. Tindakan balasan usai pengeboman oleh Israel dan Amerika Serikat itu memotong 80 hingga 90 persen jalur pengiriman kapal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil
-
Ingin Setia: Debut Aziz Padurasta yang Meleburkan Reggae, Rock, dan Punk
-
Tren Botox Meningkat, Ini Pentingnya Memastikan Perawatan Dilakukan Sesuai Standar Medis
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor