News / Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 08:40 WIB
Antusiasme masyarakat yang menjadi tamu undangan di Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta, bangkit lebih awal, Senin, 17 Agustus 2026. (Suara.com/Novian)
Baca 10 detik
  • Masyarakat undangan antusias mendatangi Istana Merdeka Jakarta sejak subuh mengenakan pakaian adat demi mengikuti upacara kemerdekaan.
  • Sejumlah warga berhasil memperoleh tiket undangan upacara setelah berjuang melakukan perang tiket secara daring pada hari kedua.
  • Para tamu undangan yang hadir menerima berbagai macam suvenir menarik serta kudapan konsumsi sebelum upacara dimulai.

Suara.com - Matahari kalah pagi. Antusiasme masyarakat yang menjadi tamu undangan di Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta, bangkit lebih awal, Senin, 17 Agustus 2026.

Sedari langit masih gelap, sekitar pukul 04.00 WIB, terlihat orang-orang melangkahkan kaki, menyeberang jalan, di sekitar kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Tepatnya di Jalan Majapahit, samping Kementerian Sekretariat Negara.

Pantauan Suara.com di lokasi, mereka yang berjalan sudah menenteng tas, lengkap dengan pakaian adat, semisal kebaya. Baju yang menjadi seragam untuk menonton upacara pagi ke siang di Istana.

Terpisah, ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Zahra (23), tampak semarak saat berhasil menunjukkan undangan hasil war tiket, lalu mendapat bingkisan sebagai suvernir dari Istana bagi ia serta masyarakat yang berhasil mengantongi undangan hasil berjuang saat war.

Pagi-pagi sekali, saat azan subuh baru selesai dikumandangkan, Zahra sudah memesan taksi daring dari bilangan Gandaria di Jakarta Selatan, menuju kawasan Ring 1 di Jakarta Pusat.

Dengan pakaian kebaya, hati nan riang, Zahra masih tidak menyangka keberuntungannya pada hari-hari saat war tiket bisa mengantarkan ia sampai ke Istana.

"Saya termasuk beruntung sih karena saya jam 10 itu sudah masuk web, di hari kedua, nggak pakai antre langsung isi data, langsung email konfirmasi, dapat email ambil undangan juga," kata Zahra sambil menunjukkan akses masuk Istana berupa gelang bewarna hijau yang ia tukarkan Sabtu pekan kemarin.

Satu antrean bersama Zahra untuk duduk di blok D, Ardi (19) memiliki cerita serupa saat berupaya mendapatkan tiket undangan upacara.

Ardi sebenarnya sudah mencoba ikut war sejak hari pertam, namun takdir baru menjawab usaha dan doanya setelah mencoba kembali pada hari kedua.

Baca Juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Pesepeda Jakarta Masih Merasa 'Terjajah' di Jalanan?

"Hari kedua. Hari pertama nggak dapat," kata Ardi.

Beranya dengan Zahra, Ardi yang tengah berkuliah di Semarang, sudah berangkat sejak Minggu.

Melaju naik kereta api, Ardi turun di Bekasi, mampir di rumah kerabat lebih dahulu, sebelum hari ini menuju Istana diantar sang kakak pagi-pagi buta.

Zahra bersama Ardi kemudian menunjukkan isi tas didominasi putih dan sedikit warna merah, yang dipenuhi beragam suvernir HUT ke-81 RI.

Zahra membuka dan memperlihatkan satu per satu suvernir yang ia dapat. Buku berjudul "Presiden Solusi" menjadi salah satunya.

Kemudian ada suvernir berupa notebook, kipas, topi, kaus, handuk, card holder, gelas, tatakan gelas, hingga permainan tradisional, semisal kelereng dan karet gelang.

Load More