-
Teleskop NASA Swift mendeteksi lubang hitam supermasif yang memangsa bintang di pinggiran galaksi jauh.
-
Penemuan ini memvalidasi metode kecerdasan buatan baru untuk berburu lubang hitam pengembara yang terlempar.
-
Observatorium Rubin dan Roman akan memperluas pemetaan fenomena pembantaian bintang di masa depan.
“Penemuan-penemuan selanjutnya dapat mengungkapkan asal-usul lubang hitam 'piatu' yang tampak ini,” ujar Stein.
“Pertanyaan kunci sains yang ingin kami jawab adalah: Seberapa umumkah keberadaan lubang hitam pengembara?”
Langkah perburuan objek misterius ini sempat tertahan sementara karena satelit pemantau utama membutuhkan dorongan penyesuaian orbit.
“Pengamatan sains terarah dengan instrumen UVOT dan XRT milik Swift ditangguhkan sementara karena misi tersebut menunggu pendorongan orbit, yang direncanakan untuk musim panas ini,” kata S. Bradley Cenko, penyelidik utama misi Swift di NASA Goddard.
Pesawat ruang angkasa yang beroperasi sejak 2004 tersebut mengalami penurunan ketinggian akibat gesekan atmosfer bumi sehingga penyesuaian orbit sangat diperlukan untuk memperpanjang usia operasinya.
“Setelah melanjutkan operasi normal, Swift dapat terus mencari lebih banyak contoh lubang hitam yang berada di luar tempatnya,” ucap Cenko.
Pemetaan populasi lubang hitam di masa depan akan semakin tajam berkat dukungan jaringan fasilitas observatorium canggih yang baru beroperasi.
“Survei luas dan mendalam dari Rubin akan mengungkap sampel peristiwa pembantaian bintang yang jauh lebih besar daripada yang mampu dikumpulkan oleh observatorium saat ini, termasuk yang berada di luar pusat,” kata Carney.
“Dan survei berbasis ruang angkasa oleh Roman akan memperluas zona pencarian saat ini dengan melihat yang lebih jauh, menembus 9 miliar tahun sejarah kosmik.”
Baca Juga: Donald Trump Rilis 160 Dokumen Rahasia UFO: Bahas Alien dan Objek Misterius
Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa setiap galaksi normalnya menampung satu lubang hitam supermasif tepat di pusat strukturnya.
Fenomena hancurnya bintang akibat tarikan gravitasi ini secara statistik hanya terjadi sekali setiap 100.000 tahun pada suatu galaksi.
Sebelumnya, astronom hanya memfokuskan pencarian di area inti galaksi karena meyakini lubang hitam besar tidak mungkin beroperasi di pinggiran.
Penemuan awal pada 2024 yang berjarak 2.600 tahun cahaya dari inti galaksi memicu pergeseran paradigma hingga ditemukannya kasus terbaru ini yang berada 30.000 tahun cahaya dari pusatnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Jalan Merdeka Utara Jadi Lautan Merah, Ribuan Warga Antusias Rayakan HUT ke-81 RI
-
Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
5 Shade Cushion untuk Kulit Olive Undertone Indonesia agar Tidak Kelihatan Abu-abu
-
Dari Yogyakarta, Solo hingga Thailand Nova Arianto Buru Komposisi Terbaik Timnas Indonesia U-20
-
Dolar AS Keok di HUT RI, Rupiah Tembus Level Rp17.796 Pagi Ini
-
Siapa Penjahit Bendera Merah Putih? Ini Sosok Perempuan di Balik Berkibarnya Bendera Pusaka
-
Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia
-
Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free
-
Pesona Istri Keenam Soekarno Ratna Sari Dewi Kenakan Kebaya Merah Jambu di Upacara HUT RI