- Apri, pemilik Toko Merdeka di Bantul, memberdayakan tujuh belas warga sekitar untuk memproduksi bendera sendiri sejak 2018 demi menjaga kualitas.
- Menjelang HUT RI tahun 2026, penjualan bendera di Toko Merdeka anjlok drastis akibat lesunya daya beli dan persaingan pemodal besar.
- Kenaikan harga bahan baku seperti kain dan benang memaksa perajin mengurangi volume produksi serta menyesuaikan harga jual produk.
Suara.com - Menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, geliat penjualan bendera dan pernak-pernik tak seramai beberapa tahun sebelumnya. Lesunya daya beli masyarakat dan persaingan dengan produsen bermodal besar membuat perajin bendera rumahan harus memutar otak untuk bertahan.
Dari Jahit Sendiri hingga Berdayakan Warga
Salah satunya dirasakan Apri, pemilik toko bendera bernama Toko Merdeka di Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bagi dia, membuat bendera bukan sekadar bisnis musiman menjelang perayaan kemerdekaan.
Usaha yang dirintis sejak 2017 itu berkembang menjadi produksi rumahan yang melibatkan warga sekitar, terutama ibu-ibu yang mengerjakan jahitan dari rumah.
Sejak mulai menjahit sendiri pada 2018, Apri perlahan memperluas produksi. Jika pada awalnya hanya dibantu keluarga dan seorang penjahit, kini sekitar 17 orang terlibat dalam usaha tersebut, dengan sebagian besar warga mengerjakan jahitan dari rumah.
"Kalau sekarang kurang lebih 17 orang, yang dua ada di toko, yang jahit di toko yang 15 warga dibawa pulang," kata Apri saat dihubungi Suara.com, Senin (17/8/2026).
Disampaikan Apri, langkah memproduksi sendiri dipilih setelah menilai kualitas dan ukuran produk dari pemasok sebelumnya semakin menurun.
Produksi mandiri membuatnya dapat menjaga kualitas sekaligus memenuhi pesanan dengan ukuran yang lebih fleksibel, termasuk pesanan khusus dari instansi.
"Jadi untuk mempertahankan kualitas kami jahit sendiri," imbuhnya.
Penjualan Anjlok hingga 90 Persen
Namun, kemampuan menjaga kualitas tidak serta-merta membuat usaha tersebut terbebas dari tekanan ekonomi. Pada 2026, Apri menyebut penjualan bendera mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun sebelumnya, baik melalui kanal daring maupun secara langsung.
Baca Juga: Cuma Bayar Rp81, Diskon Spesial Kemerdekaan di SeIndonesia Pakai BRImo
"Kalau tahun ini menurun drastis, bahkan bisa separuh dari tahun kemarin," ucapnya.
Penurunan paling terasa di marketplace. Pada periode puncak tahun sebelumnya, Toko Merdeka bahkan mampu mengirim hingga ratusan paket dalam sehari. Sementara tahun ini, jumlah pesanan merosot menjadi hanya sebagian kecil dari capaian tersebut.
"Tahun kemarin kalau udah puncak itu kita bisa kirim 150 paket sehari, yang tahun ini cuma 10 paket. Sangat drastis ya turunnya," ungkapnya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi perajin kecil bukan hanya soal ada atau tidaknya permintaan. Di sisi lain, perajin rumahan harus berhadapan dengan penjual bermodal besar yang memiliki kapasitas produksi lebih tinggi.
"Ya satu pembelinya lesu. Terus yang di (marketplace) karena sekarang ada pajak, terus biaya penanganan dan lain-lain, kan otomatis harganya kita naikin to," ujarnya.
Terdesak Pemodal Besar
Persaingan semakin berat ketika produk buatan perajin rumahan harus berhadapan dengan produsen atau konveksi bermodal besar. Kapasitas produksi yang lebih besar memungkinkan pelaku usaha besar menekan ongkos produksi dan menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Tag
Berita Terkait
-
Cuma Bayar Rp81, Diskon Spesial Kemerdekaan di SeIndonesia Pakai BRImo
-
HUT Ke-81 RI, 7.555 Warga Binaan di Jakarta Dapat Hadiah Remisi
-
PDI Perjuangan Sesalkan Respons Aparat soal Bendera Bulan Bintang di Aceh
-
Doa Menag di Upacara HUT RI 81 Panen Cibiran: Masa Isinya Laporan Statistik
-
Cerita Warga Berebut Tiket Upacara di Istana, Rela Datang dari Jauh dan Pakai Baju Adat Solo
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Tepis Isu Memisahkan Diri, Sultan Banten ke-18 Tegaskan Komitmen Setia pada NKRI
-
Kritik Atraksi Kemerdekaan Elite, Kolektif UGM Kibarkan Bendera Setengah Tiang
-
Kirab Bendera Pusaka di Monas Jadi Magnet Warga, Ada yang Datang Sejak Pagi
-
Tak Hanya Pelajar, ASN DKI Jakarta Juga Diperbolehkan WFH Besok
-
Bikin Merinding! No Na Nyanyikan Tanah Airku Rayakan HUT RI, Diminta Dibawakan Saat FIFA ASEAN Cup
-
HUT RI ke-81, PTBA Perkuat Komitmen Hadirkan Energi, Masyarakat Berdaya, Lingkungan Terjaga
-
3 Mandat Baru dari Prabowo untuk OJK di Momen 17 Agustus, Apa Saja?
-
Harmoni Dalam Persatuan: Semangat NHM Membangun Gosowong Maju di Hari Kemerdekaan
-
PNM Peduli Bergerak Cepat Bantu Korban Gempa di Nusa Tenggara Timur
-
Dedi Mulyadi Soroti Sampah Mengendap 32 Tahun di Saluran Air Kota Bandung