News / Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 15:03 WIB
Produksi bendera di toko bendera bernama Toko Merdeka di Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Dok: Istimewa).
Baca 10 detik
  • Apri, pemilik Toko Merdeka di Bantul, memberdayakan tujuh belas warga sekitar untuk memproduksi bendera sendiri sejak 2018 demi menjaga kualitas.
  • Menjelang HUT RI tahun 2026, penjualan bendera di Toko Merdeka anjlok drastis akibat lesunya daya beli dan persaingan pemodal besar.
  • Kenaikan harga bahan baku seperti kain dan benang memaksa perajin mengurangi volume produksi serta menyesuaikan harga jual produk.

Suara.com - Menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, geliat penjualan bendera dan pernak-pernik tak seramai beberapa tahun sebelumnya. Lesunya daya beli masyarakat dan persaingan dengan produsen bermodal besar membuat perajin bendera rumahan harus memutar otak untuk bertahan.

Dari Jahit Sendiri hingga Berdayakan Warga

Salah satunya dirasakan Apri, pemilik toko bendera bernama Toko Merdeka di Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bagi dia, membuat bendera bukan sekadar bisnis musiman menjelang perayaan kemerdekaan.

Usaha yang dirintis sejak 2017 itu berkembang menjadi produksi rumahan yang melibatkan warga sekitar, terutama ibu-ibu yang mengerjakan jahitan dari rumah.

Sejak mulai menjahit sendiri pada 2018, Apri perlahan memperluas produksi. Jika pada awalnya hanya dibantu keluarga dan seorang penjahit, kini sekitar 17 orang terlibat dalam usaha tersebut, dengan sebagian besar warga mengerjakan jahitan dari rumah.

"Kalau sekarang kurang lebih 17 orang, yang dua ada di toko, yang jahit di toko yang 15 warga dibawa pulang," kata Apri saat dihubungi Suara.com, Senin (17/8/2026).

Disampaikan Apri, langkah memproduksi sendiri dipilih setelah menilai kualitas dan ukuran produk dari pemasok sebelumnya semakin menurun.

Produksi mandiri membuatnya dapat menjaga kualitas sekaligus memenuhi pesanan dengan ukuran yang lebih fleksibel, termasuk pesanan khusus dari instansi.

"Jadi untuk mempertahankan kualitas kami jahit sendiri," imbuhnya.

Penjualan Anjlok hingga 90 Persen

Namun, kemampuan menjaga kualitas tidak serta-merta membuat usaha tersebut terbebas dari tekanan ekonomi. Pada 2026, Apri menyebut penjualan bendera mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun sebelumnya, baik melalui kanal daring maupun secara langsung.

Baca Juga: Cuma Bayar Rp81, Diskon Spesial Kemerdekaan di SeIndonesia Pakai BRImo

"Kalau tahun ini menurun drastis, bahkan bisa separuh dari tahun kemarin," ucapnya.

Penurunan paling terasa di marketplace. Pada periode puncak tahun sebelumnya, Toko Merdeka bahkan mampu mengirim hingga ratusan paket dalam sehari. Sementara tahun ini, jumlah pesanan merosot menjadi hanya sebagian kecil dari capaian tersebut.

"Tahun kemarin kalau udah puncak itu kita bisa kirim 150 paket sehari, yang tahun ini cuma 10 paket. Sangat drastis ya turunnya," ungkapnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi perajin kecil bukan hanya soal ada atau tidaknya permintaan. Di sisi lain, perajin rumahan harus berhadapan dengan penjual bermodal besar yang memiliki kapasitas produksi lebih tinggi.

"Ya satu pembelinya lesu. Terus yang di (marketplace) karena sekarang ada pajak, terus biaya penanganan dan lain-lain, kan otomatis harganya kita naikin to," ujarnya.

Terdesak Pemodal Besar

Ilustrasi bendera merah putih (pixabay)

Persaingan semakin berat ketika produk buatan perajin rumahan harus berhadapan dengan produsen atau konveksi bermodal besar. Kapasitas produksi yang lebih besar memungkinkan pelaku usaha besar menekan ongkos produksi dan menawarkan harga yang lebih kompetitif.

Load More