- Apri, pemilik Toko Merdeka di Bantul, memberdayakan tujuh belas warga sekitar untuk memproduksi bendera sendiri sejak 2018 demi menjaga kualitas.
- Menjelang HUT RI tahun 2026, penjualan bendera di Toko Merdeka anjlok drastis akibat lesunya daya beli dan persaingan pemodal besar.
- Kenaikan harga bahan baku seperti kain dan benang memaksa perajin mengurangi volume produksi serta menyesuaikan harga jual produk.
"Iya, modal yang lebih besarkan berarti mereka bisa turunin harga to dari cost produksi dan biaya bahannya kan mesti lebih rendah dari kita," tuturnya.
Di luar persaingan antarprodusen, Apri turut menghadapi perubahan pola belanja masyarakat dan efisiensi anggaran sejumlah instansi. Padahal, kantor-kantor menjadi salah satu konsumen utama produknya, selain toko yang menjadi mitra penjualan.
Tekanan pasar tersebut membuat Apri harus mengubah strategi produksi. Jika pada tahun sebelumnya produksi mulai digenjot sejak Juli setelah permintaan mulai muncul pada Mei, tahun ini produksi justru dikurangi karena pesanan datang lebih lambat.
"Jelas (kurangi produksi) ini kan kalau kemarin-kemarin untuk produksi kita genjot pas udah mulai Juli udah kita genjot, nah ini kita kurangi," ungkapnya.
Bahan Baku Ikut Menghimpit
Persoalan lain datang dari sisi biaya produksi. Ketika penjualan melemah, harga bahan baku seperti kain dan benang justru mengalami kenaikan. Sehingga, ruang perajin untuk mempertahankan harga semakin sempit.
"Semua naik dari segi kain. Kain itu naiknya yang spun, bahan spunbond itu bisa 50 persen dari 400 menjadi 600, sekarang udah turun lagi sih. Berarti 30 persen-an yang kain. Kain naik, benang. Kan produksi bahan kita kan kain sama benang itu, nah itu mengalami kenaikan semua," terangnya.
Kondisi tersebut memaksa Apri melakukan penyesuaian harga untuk produk tertentu. Ia memilih tidak memangkas kualitas, tetapi mengurangi volume produksi dan menaikkan harga pada produk yang menggunakan bahan dengan kenaikan biaya cukup besar.
Bagi usaha rumahan yang mengandalkan perputaran modal secara musiman, penurunan penjualan bukan sekadar persoalan omzet. Produk yang tidak terjual memang masih dapat disimpan untuk tahun berikutnya, tetapi modal yang tertahan membuat kemampuan usaha untuk memproduksi barang lain ikut menyusut.
Bendera Merah Putih hingga Tas Parsel
Toko Merdeka tidak hanya mengandalkan bendera untuk menjaga usaha tetap berjalan sepanjang tahun. Setelah musim kemerdekaan berakhir, produksi dialihkan ke kebutuhan lain seperti tas parsel untuk menghadapi momentum Idul Fitri.
Baca Juga: Cuma Bayar Rp81, Diskon Spesial Kemerdekaan di SeIndonesia Pakai BRImo
"Jadi untuk toko kami kan ketika event bendera udah selesai biasanya nanti kita bikin tas parsel untuk event Idul Fitri," terangnya.
Pola produksi tersebut membuat modal dari satu musim menjadi penting untuk membiayai musim berikutnya. Ketika bendera yang sudah diproduksi tidak terserap sesuai perkiraan, modal untuk mengembangkan produksi tas parsel pun ikut terpengaruh.
"Jadi tidak sesuai ekspektasi kita bahwa benderanya bisa keluar semua yang kita sudah jahit, gitu," ucapnya.
Meski menghadapi tekanan dari penjualan, biaya bahan baku, dan persaingan dengan pemodal besar, Apri tetap mempertahankan model produksi yang mengutamakan kualitas.
Bendera ukuran standar 60 x 90 sentimeter berbahan biasa dijual Rp10 ribu. Sedangkan bahan katun Rp20 ribu dan umbul-umbul berukuran tiga meter dijual Rp15 ribu.
Di tengah lesunya pasar, keberlangsungan usaha perajin seperti Toko Merdeka akhirnya bergantung pada kemampuan bertahan melewati siklus musiman.
Di satu sisi, mereka harus menjaga kualitas dan memberdayakan warga sekitar. Namun, di sisi lain, mereka berhadapan dengan biaya produksi yang naik, permintaan yang turun, serta persaingan harga dengan pelaku usaha bermodal besar.
Tag
Berita Terkait
-
Cuma Bayar Rp81, Diskon Spesial Kemerdekaan di SeIndonesia Pakai BRImo
-
HUT Ke-81 RI, 7.555 Warga Binaan di Jakarta Dapat Hadiah Remisi
-
PDI Perjuangan Sesalkan Respons Aparat soal Bendera Bulan Bintang di Aceh
-
Doa Menag di Upacara HUT RI 81 Panen Cibiran: Masa Isinya Laporan Statistik
-
Cerita Warga Berebut Tiket Upacara di Istana, Rela Datang dari Jauh dan Pakai Baju Adat Solo
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
PDIP Sambut Prabowonomics Berbasis Marhaenisme, Minta Bukti Keberpihakan pada Rakyat
-
Purbaya Mau Tambah Anggaran Bea Cukai Rp 1 Miliar Lebih, Dianggap Kinerjanya Makin Baik
-
Upacara HUT RI ke-81 di Kulon Progo Berlangsung Tanpa Tenda Pejabat, Seluruh Peserta Berdiri Sejajar
-
Mimpi Punya Kendaraan Baru Kandas? Kenali Penyebab Pengajuan Kredit Mobil Ditolak Leasing
-
Plafon Berjatuhan, Gedung Berguncang! Turis Belanda Ungkap Momen Mengerikan Saat Gempa NTT
-
5 Body Wash dengan Scrub Halus untuk Perawatan Kulit Bersih Menyeluruh
-
Dahi Diperban Tetap Setia Menemani, Ayu Ting Ting Puji Effort Kevin Gusnadi Rayakan 17 Agustus
-
Beli Mobil Pakai Promo Spesial HUT RI dari BRI, Dapatkan Bunga Super Ringan!
-
Raja Arab Saudi Doakan Korban Meninggal Dunia Gempa NTT: Semoga Allah SWT Memberikan Ampunan
-
Refleksi Muhammadiyah di HUT ke-81 RI, Kekuatan Politik dan Ekonomi Harus Berkhidmat untuk Rakyat