News / Internasional
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi bom (Stutterstock)
Baca 10 detik
  • Polisi menangkap remaja 15 tahun terkait kasus ancaman bom palsu di SMP Xinmin.
  • Penyisiran lokasi tidak menemukan bahan berbahaya dan kegiatan sekolah sempat terganggu saat evakuasi.
  • Pelaku penyebar informasi palsu yang membahayakan terancam hukuman penjara hingga 7 tahun dan denda.

Suara.com - Kepolisian Singapura resmi menangkap seorang remaja berusia 15 tahun yang diduga kuat menjadi dalang di balik ancaman bom palsu di SMP Xinmin. Evakuasi darurat yang dilakukan pihak sekolah membuktikan betapa rentannya fasilitas publik terhadap kepanikan massal akibat kabar bohong.

Meski tak ada bahan peledak yang ditemukan, dampak psikologis dan gangguan jadwal ujian para siswa menjadi harga mahal dari ulah tidak bertanggung jawab tersebut. Pihak kepolisian mengonfirmasi penangkapan remaja tersebut saat merespons pertanyaan dari media CNA pada Selasa (18/8).

"Penyelidikan polisi masih terus berlangsung," ujar pihak kepolisian.

Ilustrasi bom bunuh diri (Shutterstock).

Petugas tidak menemukan barang atau benda mencurigakan apa pun di seluruh area sekolah setelah penyisiran intensif selesai dilakukan. Seluruh siswa dan staf akhirnya diizinkan kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar pada hari yang sama.

Aparat mengusut tuntas peristiwa ini dengan jerat pasal penyampaian informasi palsu tentang hal yang membahayakan.

Siapa saja yang terbukti bersalah menyebarkan informasi bohong semacam ini terancam hukuman penjara hingga tujuh tahun, denda maksimal S$50.000, atau gabungan keduanya. Namun, proses hukum bagi pelanggar yang berusia di bawah 16 tahun biasanya akan ditangani melalui Pengadilan Pemuda.

Seorang siswi kelas 4 menceritakan bahwa pengumuman darurat mendadak terdengar melalui pengeras suara sekolah sekitar pukul 08.30 pagi.

Seluruh murid langsung diarahkan berkumpul di lapangan, tempat kepala sekolah SMP Xinmin memberitahukan adanya ancaman bom secara langsung.

"Itu sedikit mendadak ... Itu benar-benar membuat kami kaget. Beberapa dari mereka bahkan masih sedang menjalani ujian," katanya.

Baca Juga: Utang Pemerintah Tembus Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya Bandingkan Kondisi RI dengan Singapura

Sejumlah orang tua murid yang diwawancarai terkejut bukan main begitu mendengar kabar teror yang menimpa sekolah anak mereka.

"Saya tidak pernah membayangkan insiden seperti ini terjadi di sekolah-sekolah Singapura," kata Pak Cheng, salah satu orang tua murid SMP Xinmin.

Orang tua siswa lainnya, Albert Hooi, mengaku mendengar raungan sirine polisi tak lama setelah pukul 08.00 pagi. Ia baru menerima pemberitahuan resmi sekitar pukul 10.00 pagi melalui Parents Gateway, aplikasi komunikasi antara sekolah dan orang tua.

"Saya merasa sangat yakin bahwa sekolah telah mengikuti protokol keselamatan. Tentu saja, ini semua sangat baru bagi kami, sangat takut juga, tapi saya pikir sekolah telah melakukan hal yang benar," tuturnya.

Pria yang memiliki anak berusia 15 tahun tersebut menilai pihak sekolah bertindak sangat profesional sebelum memberikan pengumuman resmi ke wali murid.

"Bayangkan jika semua orang tua berhamburan datang, kita justru akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar. Saya hanya lega semuanya berjalan baik," tambahnya.

Insiden gertakan bom di SMP Xinmin ini terjadi empat tahun setelah peristiwa serupa melanda SMP Evergreen di kawasan Woodlands.

Kementerian Dalam Negeri Singapura menegaskan bahwa ancaman terhadap keamanan masyarakat harus selalu ditanggapi dengan sangat serius, meskipun pada akhirnya terbukti hanya kabar bohong.

Load More