-
Iran menuding Amerika Serikat memaksakan konsesi ilegal di luar dokumen kesepakatan damai.
-
Kebuntuan diplomasi dipicu oleh perbedaan penafsiran syarat nota kesepahaman serta aturan Selat Hormuz.
-
Kesepakatan awal pertengahan Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar kini terancam batal sepenuhnya.
Suara.com - Iran menilai Amerika Serikat sengaja menerapkan tekanan ekonomi dan politik secara ekstrem demi memaksakan tuntutan baru yang tidak pernah disepakati sebelumnya. Langkah tersebut memicu kemarahan otoritas legislatif tertinggi di Teheran hingga memicu ketegangan baru antar kedua negara.
Syarat-syarat tambahan yang disodorkan pihak Amerika Serikat dinilai merusak komitmen awal yang telah dibangun melalui perantara negara ketiga. Sikap keras Washington ini membuat proses negosiasi penghentian permusuhan terancam gagal total.
Kritik tajam tersebut dilontarkan langsung oleh jajaran pimpinan parlemen demi menegaskan posisi tawar Teheran di panggung internasional. Pihak Iran menolak keras segala bentuk intimidasi diplomasi yang dinilai merugikan kedaulatan mereka.
"Orang-orang Amerika berpikir dengan mencekik Iran, mereka akan meraih konsesi yang tidak pernah menjadi bagian dalam kesepakatan," kata Ghalibaf dalam sebuah kiriman di media sosial, Selasa.
Ia lantas menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sudah semakin kehilangan kendali. "Berhenti menunggu kru badut untuk menarik kelinci dari topinya dan bersihkan kekacauan yang kalian buat," ucapnya.
Mengapa Ketegangan Diplomasi Iran Dan Amerika Serikat Kembali Meledak?
Kebuntuan diplomasi ini bermula dari perselisihan tajam mengenai teknis pelaksanaan nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya. Isu pengawasan jalur pelayaran strategis serta komitmen keamanan menjadi batu sandungan utama yang menghentikan pembicaraan.
Kedua belah pihak saling tuduh melanggar substansi kesepakatan awal yang digagas untuk meredakan krisis. Teheran enggan melangkah lebih jauh selama syarat-syarat awal diubah secara sepihak oleh Washington.
Kondisi geopolitik semakin membara mengingat wilayah perselisihan berlokasi di area krusial pasokan energi dunia. Ketidakpastian dialog ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas perdagangan internasional.
Baca Juga: Konflik AS - Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Ditutup Naik 2 Dolar AS
Sebagai informasi, Teheran dan Washington sebenarnya sempat menyepakati nota kesepahaman pada pertengahan Juni lalu untuk menghentikan perselisihan dan membuka jalan menuju perdamaian permanen.
Dokumen peredam konflik tersebut berhasil dirumuskan berkat penegah dari pemerintah Pakistan serta Qatar.
Namun, proses negosiasi lanjutan terhenti di tengah jalan akibat perselisihan mengenai poin pertikaian di Selat Hormuz yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Petinggi Iran Bongkar Cara Kotor Amerika Serikat Berunding: Mencekik!
-
Pelatih Panjat Tebing Jadi Tersangka TPKS 5 Atlet Pelatnas Putri, Terjadi Sejak 2022
-
3 Moisturizer Brand Jepang untuk Flek Hitam Sesuai Review dan Klaim
-
Ada Transaksi Sampai Rp2,6 Miliar! Jabar Jadi 'Juara' Judol di Kalangan Penerima Bansos
-
Perfeksionis Sekaligus Teliti, Ini 10 Karier dan Pekerjaan yang Cocok untuk Zodiak Virgo
-
Thousand Cranes: Luka Masa Lalu dalam Karya Peraih Nobel Yasunari Kawabata
-
Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?
-
Direktorat Politik Dalam Negeri Perkuat Kebijakan Politik Berbasis Data dengan Dashboard Eksekutif
-
Red Notice Terbit, Polri Buru Syekh Ahmad Al Misry ke Mesir Lewat Jalur Interpol
-
Diskon Medical Check-Up di Siloam Pakai BRI, Cek Syaratnya