- Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyebut penurunan bendera Merah Putih di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026 dipicu ketimpangan pusat dan daerah.
- Pengurangan anggaran Transfer ke Daerah oleh Presiden Prabowo Subianto membuat APBD Aceh tidak sanggup menangani dampak bencana banjir bandang.
- Gatot Nurmantyo menyarankan pemerintah membuka ruang dialog dan melakukan operasi teritorial untuk mengatasi konflik kekerasan di Papua.
Suara.com - Memanasnya isu kerusuhan yang dipicu penurunan bendera Merah Putih di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026 lalu serta masih berlanjutnya konflik kekerasan di Papua mendapat banyak sorotan. Beberapa pihak menilai hal tersebut terjadi lantaran adanya pengabaian pemerintah pusat terhadap masyarakat di daerah.
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berpendapat kejadian-kejadian tersebut disebabkan makin besarnya jurang ketimpangan antara kebijakan pemerintah pusat dan kesejahteraan daerah.
Pada kasus di Aceh, Gatot menduga hal itu dipicu oleh ketidaksigapan pemerintah pusat dalam menangani dampak bencana banjir bandang yang meluluhlantakkan daerah yang dijuluki Serambi Mekkah itu pada akhir November 2025 lalu.
Apalagi, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto dengan mengurangi anggaran Transfer ke Daerah (TKD) memberikan dampak pada ketidaksanggupan APBD pemerintah daerah dalam menangani bencana.
"Urat nadi ekonomi di daerah itu adalah APBD. Ketika APBD dikurangi, urat nadi itu akan terhambat," kata Gatot dalam webinar Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab pada Rabu (19/8/2026).
Lulusan Akmil 1982 itu juga menilai kerusuhan tersebut merupakan bentuk kemarahan warga Aceh yang terakumulasi selama beberapa waktu terakhir. Padahal, masyarakat Aceh mempunyai kontribusi besar pada masa awal kemerdekaan.
Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah membaca peristiwa tersebut sebagai alarm pengingat agar kemarahan serupa tidak menjalar ke berbagai daerah lain.
Ia juga menegaskan kasus-kasus kerusuhan tersebut tidak hanya bisa dilihat dari satu sudut pandang, tetapi harus ditelusuri secara jauh lebih komprehensif untuk menemukan akar persoalannya.
Selain di Aceh, isu serupa juga masih dialami masyarakat Papua yang dilanda konflik antara TNI dan TPN-PB.
Baca Juga: Masa TNI Disuruh Masak?: Gatot Nurmantyo Kritik Masifnya Militer di Program MBG dan Kopdes
Alih-alih menggunakan pendekatan kekerasan, Gatot menyarankan pemerintah lebih membuka ruang dialog untuk dapat memahami tuntutan masyarakat di daerah.
"Seharusnya tidak melakukan operasi tempur, tetapi operasi teritorial untuk merebut hati dan pikiran rakyat," tegasnya.
Reporter: Alif Bintang
Tag
Berita Terkait
-
Masa TNI Disuruh Masak?: Gatot Nurmantyo Kritik Masifnya Militer di Program MBG dan Kopdes
-
KNPB Minta Konflik Papua Dimediasi Negara Lain: Indonesia Harus Buka Diri
-
Tolak Narasi Pigai, KNPB: Papua Punya Hak Merdeka Sesuai Prinsip Menentukan Nasib Sendiri!
-
Bendera Bulan Bintang Berkibar di Aceh, Akademisi Soroti Rekonsiliasi yang Belum Tuntas
-
Prabowo Diminta Perpanjang Dana Otsus Aceh di Tengah Keresahan Bulan Bintang
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Dokumen dan Foto Keluarga Disita, Kejagung Respons Permohonan Pengembalian Barang Febrie Adriansyah
-
The Man Who Didn't Like Animals: Ketika Si Pembenci Hewan Berubah Hati
-
Bikin Resah dan Bahayakan Pengendara, Truk Sampah 'Roboh' di Bogor Akhirnya Ditarik dari Jalan
-
Waduk Manggar Kian Surut, 3 Bulan Lagi Balikpapan Terancam Kekurangan Air
-
Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga
-
Gejolak Aceh dan Papua, Gatot Nurmantyo Soroti Akar Masalah
-
5 Cara Memilih Ukuran Sandal Bahan Polimer yang Tepat, Pasti Nyaman di Kaki
-
Pemuda Betawi Pimpin PCNU Kota Tangerang, Sejak Kecil Ditempa di Pesantren
-
Warna Pintu Toko yang Baik Menurut Feng Shui agar Bisnis Lancar, Jangan Salah Pilih
-
Dampak Kerusakan Akibat Gempa di Pulau Palue NTT