News / Metropolitan
Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:23 WIB
ilustrasi KRL (Unsplash/Rafael Atantya)
Baca 10 detik
  • Seorang kakek bernama Ishak tewas terserempet KRL di jalur Cawang-Tebet pada Kamis pagi.
  • Keluarga korban membantah isu bunuh diri dan memastikan peristiwa tersebut adalah murni kecelakaan.
  • Faktor penurunan fungsi pendengaran dan usia lanjut membuat korban tidak mendengar kedatangan kereta.

Suara.com - Seorang kakek berusia 80 tahun bernama Ishak dilaporkan tewas setelah terserempet Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di lintasan rel antara kawasan Cawang dan Tebet pada Kamis (20/8/2026) pagi.

Peristiwa tersebut sempat menimbulkan simpang siur kabar di tengah masyarakat, termasuk dugaan bahwa korban sengaja mengakhiri hidupnya.

Namun, pihak keluarga membantah dugaan tersebut dan menegaskan bahwa kejadian itu murni kecelakaan.

Nurhasanah, anak korban, menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai di kediamannya di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, hari ini.

Ia menjelaskan bahwa ayahnya memang memiliki riwayat penyakit yang kerap membuatnya mengeluh kesakitan.

"Bapak itu penyakitnya asam lambung sama darah tinggi," beber Nurhasanah.

Nia, keponakan korban, menambahkan bahwa faktor usia dan pendengaran yang sudah menurun turut menjadi penyebab korban tidak menyadari kedatangan kereta.

"Dia rasa sakitnya udah lama, orangnya nggak sabaran. Jadi udah pikun, udah lansia. Kalau 80 kan udah umurnya, udah budek. Jadi kalau ada kereta nggak denger, kan wajar," tuturnya.

Menurut keluarga, korban memang memiliki rutinitas berjalan kaki setiap pagi ke taman dekat rumahnya. Sehingga, kepergiannya pada pagi kejadian tersebut tidak menimbulkan kecurigaan.

Baca Juga: Ahli Nilai Polda Metro Tak Berwenang Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Sentul

Nia kembali menegaskan bahwa korban tewas saat sedang berada di pinggir rel kereta, bukan karena sengaja melompat ke arah kereta.

"Pure ini kecelakaan, karena keserempet kereta. Emang lagi nongkrong di pinggir rel," ucapnya.

Keluarga juga memastikan tidak ada tanda-tanda korban mengalami depresi maupun memiliki beban berat di dalam rumah.

Korban selama ini selalu diurus dan diperhatikan kebutuhan kesehatannya oleh anak-anak.

"Benar-benar diobatin. Diurusin, dikasih makan," kata Nurhasanah.

Keluarga pun mengaku ikhlas menerima musibah yang menimpa ayah sekaligus kakek mereka tersebut.

Mereka berharap kejadian ini dipahami masyarakat sebagai musibah kecelakaan, bukan tindakan bunuh diri.

Load More