- Gus Lilur menggagas GERBANG TOLL PBNU pada Jumat, 21 Agustus 2026, untuk mengajak peserta Muktamar ke-35 menolak LPJ PBNU.
- Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf merespons tenang dan memastikan persiapan Muktamar pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Jombang berjalan maksimal.
- Gerakan tersebut menyoroti konflik internal, kebijakan administratif daerah, masalah hukum tokoh, serta pentingnya evaluasi kinerja konkret bagi umat.
Suara.com - Dinamika politik internal menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, semakin memanas.
Muncul sebuah seruan yang dinamakan sebagai GERBANG TOLL PBNU atau Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU. Gerakan ini secara terbuka mengajak para peserta Muktamar untuk bersikap kritis terhadap kinerja kepengurusan pusat.
Seruan tersebut digelorakan oleh HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur. Ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan merupakan bentuk permusuhan terhadap institusi NU maupun para pengurus yang akan segera mengakhiri masa khidmahnya.
Sebaliknya, GERBANG TOLL PBNU diposisikan sebagai ajakan bagi para muktamirin untuk menggunakan hak organisasional mereka dalam menilai Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PBNU secara objektif, terbuka, dan bertanggung jawab.
Gus Lilur berpendapat bahwa LPJ seharusnya tidak hanya menjadi dokumen formalitas dalam forum Muktamar, melainkan instrumen evaluasi yang mendalam terhadap kinerja kepengurusan selama satu periode.
"Karena itu, penerimaan LPJ tidak semestinya dilakukan hanya karena tradisi sungkan, penghormatan kepada pengurus, atau keinginan menjaga suasana tetap harmonis. Jika terdapat persoalan mendasar yang belum terjawab, muktamirin memiliki hak untuk mempertanyakannya dan bahkan menolak LPJ," ujar Kyai kampung, Jumat (21/8/2026).
Salah satu poin krusial yang disoroti Gus Lilur adalah konflik internal di tubuh PBNU yang sempat mencuat secara terbuka pada akhir tahun 2025.
Fenomena saling pemberhentikan antar-pengurus dan klaim kewenangan di tingkat pimpinan dinilai telah mencederai marwah organisasi.
Menurutnya, masalah tersebut seharusnya diselesaikan melalui mekanisme musyawarah internal yang bermartabat.
Baca Juga: Digelar 27-31 Agustus, Gus Yahya Sebut Isu Restu Istana Jelang Muktamar NU untuk Menakut-nakuti
"Warga NU di tingkat akar rumput tidak pernah meminta pertunjukan konflik tersebut dan justru membutuhkan organisasi yang memberikan keteladanan dalam persaudaraan," ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Lilur menekankan bahwa evaluasi terhadap kepengurusan PBNU harus didasarkan pada hasil konkret yang bisa dirasakan langsung oleh warga Nahdliyin.
Ia mempertanyakan indikator capaian nyata, seperti keberadaan rumah sakit atau kampus yang benar-benar berdiri sebagai hasil kerja nyata kepengurusan, bukan sekadar seremoni atau publikasi program.
"Pertanyaan ini diajukan untuk mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan organisasi seharusnya tidak berhenti pada banyaknya kegiatan administratif, tetapi harus terlihat dalam perubahan nyata kehidupan umat," tanyanya.
Tradisi para pendiri NU seperti Kiai Wahab Chasbullah, KH Hasyim Asy'ari, dan KH Bisri Syansuri yang meninggalkan warisan institusi nyata disebut sebagai rujukan utama.
Gus Lilur menilai semangat membangun lembaga dan karya nyata tersebut perlu kembali menjadi tolok ukur bagi kepengurusan saat ini.
Berita Terkait
-
Digelar 27-31 Agustus, Gus Yahya Sebut Isu Restu Istana Jelang Muktamar NU untuk Menakut-nakuti
-
Wanti-wanti Gus Lilur ke Prabowo, Jangan Biarkan Nama Presiden Dipakai Intervensi Muktamar NU
-
Jelang Muktamar NU ke-35, Tokoh dan Aktivis Desak PBNU Independen dan Responsif Gender
-
Gus Miftah Tegaskan Istana Tak Intervensi Muktamar NU ke-35
-
Gus Ipul Bantah Isu Rebutan Tambang Jelang Muktamar NU: Itu Fitnah dan Jauh dari Fakta
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Muncul Gerakan 'Gerbang Toll PBNU', Serukan Tolak LPJ di Muktamar ke-35 NU
-
Danantara Ambil Opsi Penjualan Aset untuk Sehatkan WIKA
-
Dorong Ekosistem Emas, Direktur Pegadaian Resmi Jadi Ketua Umum Indonesia Bullion Market Association
-
Tren Personal Branding oleh Gen Z: Sesulit Itukah Menjadi Diri Sendiri?
-
Mau Beli Rumah dan Mobil Sekaligus? Cek Penawaran BRI Consumer Expo 2026
-
LPG Terus Dipasok untuk Percepat Pemulihan Gempa NTT
-
OPM Eksekusi Agen BIN di Yahukimo: Korban Sudah Lama Jadi Target Operasi Rahasia!
-
Kalimantan Disebut Setengah Neraka, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional Karhutla
-
Harga Bisa Mentok Rp1, Investor Diminta Jangan Buru-buru Serok Saham
-
Unsoed Buka Suara Soal OTT KPK, Pastikan Tak Ada Kekosongan Kepemimpinan di Rektorat