News / Internasional
Jum'at, 21 Agustus 2026 | 19:50 WIB
ilustrasi pesisir pantai (unsplash/john-vargues)

Suara.com - Gelombang panas tidak hanya terjadi di daratan. Laut juga dapat mengalami kondisi serupa ketika suhu air meningkat secara tidak normal dan bertahan dalam waktu cukup lama.

Fenomena ini dikenal sebagai marine heatwave atau gelombang panas laut. Meski tidak terlihat langsung dari permukaan, dampaknya dapat mengganggu ekosistem laut hingga kehidupan masyarakat pesisir.

Melansir Phys (18/8), gelombang panas laut terjadi ketika suhu air laut berada jauh di atas kondisi normal dalam suatu wilayah. Fenomena ini dapat terbentuk ketika air hangat di dekat permukaan tidak bercampur dengan air yang lebih dingin di lapisan bawah.

Ilustrasi pesisir (Freepik)

Kondisi cuaca yang panas, kering dan minim angin dapat memperbesar peluang terjadinya fenomena tersebut.

Para peneliti menentukan gelombang panas laut dengan membandingkan suhu air dengan catatan suhu historis di wilayah tersebut. Suhu harus berada di atas 90 persen dari kisaran suhu historis dan bertahan setidaknya lima hari berturut-turut.

Berbeda dengan gelombang panas di daratan yang umumnya ditentukan berdasarkan suhu ekstrem selama setidaknya tiga hari, pengukuran di laut memperhitungkan kondisi musiman dan karakteristik suhu masing-masing wilayah.

Gelombang panas laut dapat terjadi di berbagai bagian samudra dan kapan saja sepanjang tahun.

Ancaman bagi kehidupan laut

Kenaikan suhu air dapat menjadi persoalan serius bagi organisme yang tidak mampu berpindah mengikuti perubahan kondisi lingkungan.

Baca Juga: Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Ikan dan sejumlah hewan laut lainnya masih memiliki kemampuan untuk mencari perairan yang lebih dingin. Namun, organisme yang hidup menetap seperti terumbu karang dan rumput laut tidak dapat melakukan hal serupa.

Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan stres, mengganggu reproduksi, serta mengubah ketersediaan makanan dalam rantai ekosistem.

Pada terumbu karang, misalnya, peningkatan suhu laut dapat memicu pemutihan karang. Jika berlangsung terlalu lama dan parah, kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian karang dan mengganggu habitat berbagai spesies laut.

Dampaknya juga dapat menjalar ke masyarakat.

Perubahan jumlah dan lokasi ikan dapat mengganggu aktivitas perikanan, sementara kerusakan ekosistem pesisir dapat memengaruhi sumber penghidupan dan nilai budaya masyarakat yang bergantung pada laut.

Gelombang panas laut juga dapat merusak ekosistem karbon biru seperti padang lamun dan hutan mangrove yang berperan menyerap dan menyimpan karbon.

Fenomena yang semakin ekstrem

Australia Barat menjadi salah satu wilayah yang pernah mengalami gelombang panas ekstrem di laut dan daratan secara bersamaan.

Pada Februari 2011, gelombang panas di daratan menyebabkan kematian pepohonan dan berdampak pada populasi kakatua yang terancam punah. Pada periode yang sama, suhu laut meningkat dan menyebabkan pemutihan karang di sejumlah kawasan, termasuk Pilbara, Ningaloo dan Kepulauan Abrolhos.

Pada September 2024, perairan lepas pantai Australia Barat kembali mengalami gelombang panas laut yang berlangsung selama beberapa bulan. Fenomena tersebut menjadi salah satu gelombang panas laut terpanjang dan terparah yang tercatat di wilayah tersebut.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah kawasan lain. Pada musim panas Eropa 2026, suhu permukaan laut dilaporkan melonjak hingga sekitar lima derajat Celsius di beberapa wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap ekosistem di Laut Mediterania, Laut Utara dan Laut Baltik.

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang membuat laut semakin panas. Pemanasan global meningkatkan suhu dasar laut sehingga gelombang panas laut ekstrem kini dapat terjadi tanpa selalu bergantung pada fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina.

El Nino dan La Nina tetap dapat memengaruhi distribusi panas laut. Perubahan pola angin dan perpindahan massa air hangat dapat membuat gelombang panas laut menjadi lebih ekstrem di wilayah tertentu.

Namun, meningkatnya suhu rata-rata laut akibat perubahan iklim membuat kondisi ekstrem lebih mudah terbentuk.

Mengapa sulit dipantau?

Salah satu persoalan dalam memahami gelombang panas laut adalah fenomena tersebut tidak selalu terlihat dari permukaan.

Satelit dapat memantau perubahan suhu permukaan laut, tetapi tidak seluruh kondisi di bawah permukaan dapat terdeteksi dengan baik.

Padahal, perubahan suhu di lapisan bawah laut dapat memengaruhi organisme dan ekosistem yang berada di sana.

Karena itu, para peneliti menilai diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai perubahan arus laut dan atmosfer, termasuk kondisi di bawah permukaan.

Pemantauan tersebut penting untuk memahami kapan gelombang panas mulai terbentuk, seberapa lama akan berlangsung dan wilayah mana yang paling berisiko terdampak.

Mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah utama untuk membatasi pemanasan laut dalam jangka panjang.

Namun, upaya adaptasi juga diperlukan. Peneliti dapat mengembangkan model komputer dan sistem peringatan dini yang membantu nelayan, pengelola kawasan konservasi dan masyarakat pesisir bersiap menghadapi perubahan kondisi laut.

Dengan peringatan yang lebih cepat, langkah perlindungan terhadap terumbu karang, perikanan dan ekosistem pesisir dapat dilakukan sebelum dampaknya menjadi semakin sulit dikendalikan.

Penulis: Chairunisa

Load More