- Gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 161.084 orang mengungsi dan 91 korban meninggal dunia.
- Anak-anak di pengungsian menghadapi risiko kesehatan fisik akibat minimnya fasilitas sanitasi serta ancaman tekanan psikologis mendalam.
- Plan Indonesia menyalurkan bantuan darurat serta memberikan layanan dukungan psikososial dan perlindungan bagi kelompok rentan terdampak.
Suara.com - Lebih dari sepekan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, anak-anak terdampak masih menghadapi berbagai risiko di lokasi pengungsian.
Berdasarkan pembaruan situasi hingga Minggu (23/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 161.084 orang masih mengungsi. Sementara itu, 91 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) juga mencatat 48 korban meninggal yang sebelumnya terdata merupakan anak dan perempuan dewasa.
Plan Indonesia menilai kondisi pengungsian yang masih serba terbatas dapat meningkatkan kerentanan anak. Keterbatasan selimut, air bersih, sanitasi, serta fasilitas dasar lainnya membuat keluarga harus bertahan dalam kondisi yang kurang layak.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebelumnya melaporkan dua anak meninggal dunia setelah mengalami sakit yang diperparah oleh kondisi di pengungsian.
Kepadatan pengungsian dan minimnya fasilitas sanitasi juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan infeksi kulit.
Selain ancaman kesehatan fisik, anak-anak juga menghadapi tekanan psikologis. Kehilangan rumah, terganggunya rutinitas, serta berada jauh dari lingkungan yang familiar dapat memengaruhi rasa aman mereka.
Kondisi tersebut diperparah dengan masih terjadinya gempa susulan. Hingga Minggu (23/8), tercatat 5.688 gempa susulan. Situasi ini dinilai dapat kembali memicu rasa takut dan kecemasan pada anak-anak serta menghambat pemulihan mereka.
“Kematian anak di lokasi pengungsian adalah alarm keras bagi penanganan darurat bencana ini. Bagi anak-anak, ancaman tidak selesai saat guncangan gempa berakhir. Ketika mereka terpaksa bertahan di tempat pengungsian yang dingin, berimpitan, dan minim air bersih, hak-hak mereka terancam,” kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti dalam keterangan tertulis, Senin (24/8).
Baca Juga: Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
Dini mendesak bantuan dasar untuk para pengungsi segera dipenuhi secara menyeluruh. Menurutnya, kebutuhan seperti selimut, terpal, tikar atau alas, pembatas tenda, penahan angin malam, hingga air bersih harus menjadi prioritas.
Dia juga menyoroti aspek keamanan dan perlindungan bagi anak serta perempuan di lokasi pengungsian. Minimnya penerangan di sekitar tenda dan akses toilet yang tidak aman dinilai dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender maupun gangguan keamanan terhadap anak perempuan.
Karena itu, Plan Indonesia meminta lokasi pengungsian memastikan aspek keamanan, privasi, perlindungan, serta akses yang inklusif bagi anak dan kelompok rentan.
Sejak hari pertama setelah gempa, Plan Indonesia telah mengerahkan 16 anggota Emergency Response Team ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo.
Tim tersebut melakukan kaji cepat kebutuhan dengan fokus pada penyediaan air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH), pendidikan dalam situasi darurat, serta perlindungan anak.
Plan Indonesia juga telah menyalurkan ribuan paket bantuan awal berupa terpal, tikar atau matras, selimut, paket kebersihan keluarga, paket kebersihan menstruasi, serta air siap minum. Distribusi air bersih juga dilakukan di sejumlah titik pengungsian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
5 Sunscreen Tanpa Niacinamide untuk Kulit Kering dan Sensitif
-
3 Zodiak Paling Dibenci, Benarkah Punya Sifat Menyebalkan?
-
Ada Demo Besar di Jakarta, Disdik Kota Tangerang Wajibkan Orang Tua Jemput Siswa 27-28 Agustus
-
Daftar Demo dan Lokasi Aksi Massa Hari Ini 27 Agustus 2026
-
Viva Milk Cleanser Cucumber untuk Kulit Apa? Ini Cara Pakai dan Review Pengguna
-
Dugaan Penyebab Bencana Banjir di Tibet, Ratusan Orang Meninggal Dunia
-
Detik-detik Banjir Bandang Terjang Nepal, 157 Nyawa Melayang dan Ratusan Orang Hilang
-
Rekening Warga Pati yang Sempat Diblokir telah Pulih, Transaksi Kembali Normal
-
Masa Sulit Berakhir, 4 Shio Ini Siap Sambut Peruntungan Baru pada 27 Agustus 2026
-
Nilai Strategis Selat Hormuz Semakin Terkikis, Iran di Ujung Tanduk