Iran Siapkan Jalur Baru Selat Hormuz, Pembukaan Kembali Bergantung pada Komitmen AS

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:58 WIB
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. [ANTARA/Anadolu/py]
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan komitmen AS terkait Memorandum Islamabad.
  • Iran mengajukan syarat pencabutan sanksi, pelepasan aset, investasi, serta penghentian perang di Lebanon untuk membuka selat.
  • Situasi krisis memicu penurunan ekspor-impor Iran serta gangguan sektor energi yang berdampak pada perekonomian domestik.

Suara.com - Iran mulai menyiapkan jalan keluar untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Teheran mengaku telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran, tetapi pembukaan kembali selat tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah komitmen oleh Amerika Serikat (AS).

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan kesepakatan rute pelayaran telah dibahas bersama Oman. Menurutnya, Selat Hormuz dapat kembali dibuka apabila AS memenuhi komitmen yang tercantum dalam Memorandum Islamabad yang disepakati sebelumnya.

“Kami telah menyepakati rute pelayaran melalui Hormuz dengan Oman, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuka selat itu,” kata Pezeshkian, Jumat (28/8), dilansir dari laman Antara, Sabtu (29/8/2026).

Pezeshkian mengatakan, rencana tersebut juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran. Pemerintah Iran kini masih menindaklanjuti kesepakatan tersebut.

Iran Pasang Syarat Sebelum Hormuz Dibuka

Teheran mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah tuntutan terhadap Washington.

Pezeshkian menyebut beberapa di antaranya adalah pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset Iran yang dibekukan, dimulainya investasi, serta penghentian perang di Lebanon.

Menurut Pezeshkian, pihak AS juga telah mengakui perlunya kembali pada nota kesepahaman tersebut dalam pembicaraan yang berlangsung.

Dari sisi Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi disebut telah mencapai konsensus mengenai kesepakatan itu. Sebanyak 12 dari 13 anggota disebut memberikan dukungan.

Iran juga mengklaim sejumlah dampak ekonomi mulai terasa akibat situasi tersebut. Pezeshkian mengatakan volume impor dan ekspor Iran mengalami penurunan sekitar 25 persen hingga 35 persen.

Investasi 300 Miliar Dolar AS Ikut Dipertaruhkan

Selain persoalan pelayaran, Iran mengaitkan normalisasi kondisi dengan rencana investasi berskala besar.

Pezeshkian mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.327 triliun.

Pembicaraan mengenai investasi tersebut disebut telah dilakukan dengan Qatar dan Uni Emirat Arab. Namun, menurut Pezeshkian, proyek-proyek itu sulit berjalan apabila konflik masih berlanjut.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com