- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM Pertalite tetap Rp10.000 per liter hingga akhir 2026 demi menjaga daya beli masyarakat.
- Kebijakan tersebut dipertahankan meskipun harga minyak dunia telah melampaui 100 dolar AS per barel dan membebani APBN.
- Pemerintah menghindari kenaikan harga Pertalite untuk mencegah lonjakan inflasi serta dampak ikutan yang menekan perekonomian masyarakat.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi Pertalite meski harga minyak dunia saat ini sudan berada di atas 100 dolar AS per barel.
Bahlil menegaskan harga Pertalite sebesar Rp10.000 per liter akan tetap dipertahankan hingga akhir tahun 2026. Adapun alasan pemerintah mempertahankan harga guna menjaga daya beli masyarakat.
Tercatat pada Selasa (15/9) harga mentah Brent berada di level 106,93 dolar AS per barel, dan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat di harga 102,65 dolar AS per barel.
Adapun Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) juga tercatat naik dari 81,68 dolar AS per barel pada Juli menjadi 89,43 dolar AS per barel pada Agustus.
Ekonom dari Universitas Negeri Manado Robert. Winerungan menilai keputusan pemerintah tidak menaikkan harga Pertalite sudah tepat.
"Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali," kata Robert yang dikutip pada Selasa (15/9/2026).
Meski membebani anggaran APBN, langkah tersebut dinilai lebih murah dibanding menaikkan harga Pertalite yang berpotensi memicu lonjakan inflasi secara luas.
"Memang subsidi bisa membengkak. Tapi manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan," ujarnya.
Dijelaskannya kenaikan harga Pertalite akan memberikan efek domino. Dimulai dari ongkos transportasi yang melonjak hingga meluas ke harga kebutuhan pokok.
"BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat," kata Robert.
Ia pun menyoroti perubahan pola konsumsi BBM di tengah masyarakat. Akibat kenaikan harga BBM non subsidi, kini masyarakat migrasi besar-besaran ke BBM subsidi Pertalite.
"Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik," kata Robert.