Amerika Keluarkan Peringatan Darurat di Arab Saudi Usai Serangan Rudal Houthi

Senin, 21 September 2026 | 08:35 WIB
Milisi Houthi merilis video klaim penembakan jet F-15 Arab Saudi di wilayah Marib. (Houthi)
BACA 10 DETIK
  • AS memperingatkan potensi eskalasi cepat usai kelompok Houthi menembakkan rudal ke wilayah Riyadh.

  • Serangan Houthi menyasar infrastruktur minyak Aramco dan mengganggu jalur ekspor energi Arab Saudi.

  • PBB mencatat pertempuran di Yaman telah menewaskan ratusan orang dan memicu 110.000 pengungsi.

Suara.com - Amerika Serikat mengeluarkan peringatan darurat terkait potensi perang yang dapat membesar dengan cepat di Timur Tengah. Langkah antisipasi ini diambil tepat setelah kelompok Houthi meluncurkan serangan rudal ke wilayah Riyadh untuk pertama kalinya sejak konflik Yaman memanas kembali.

Dampak langsung serangan tersebut memaksa Presiden AS Donald Trump memotong agenda akhir pekannya di Camp David dan mendadak kembali ke Gedung Putih. Kendati Gedung Putih tidak membeberkan alasan pasti kepulangan mendadak sang presiden, peristiwa ini menandai babak baru yang makin membahayakan dalam konfrontasi Arab Saudi dan Houthi.

Dua ledakan keras terdengar mengguncang ibu kota Arab Saudi, disusul munculnya kobaran api pada tangki bahan bakar berlogo Aramco dekat bandara. Situasi darurat ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan serta pasokan energi dunia dari kawasan tersebut.

Milisi Houthi merilis video klaim penembakan jet F-15 Arab Saudi di wilayah Marib. (Houthi)

“Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat,” peringatan Departemen Luar Negeri AS.

Pihak kementerian juga menyatakan agar warga Amerika di luar kawasan tersebut secara serius mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui wilayah tersebut.

Langkah ofensif kilat yang dilancarkan kelompok Houthi dalam beberapa pekan terakhir telah merebut sebagian besar wilayah Yaman dan menewaskan ratusan jiwa. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi bahwa pertempuran hebat ini telah memaksa lebih dari 110.000 orang mengungsi dari rumah mereka.

Konflik bersenjata ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mulai mengganggu jalur pelayaran komersial serta ekspor minyak mentah Arab Saudi. Sebagai pemasok minyak mentah terbesar di dunia, gangguan keamanan di wilayah Kerajaan Arab Saudi berisiko mengguncang pasar energi global.

Koalisi pimpinan Riyadh mengonfirmasi melalui platform X bahwa pertahanan udara mereka berhasil menjatuhkan rudal balistik Houthi yang mengarah ke ibu kota. Mereka juga menyatakan bahwa milisi pro-Iran tersebut berusaha menyerang warga serta infrastruktur sipil di beberapa kota bagian barat, termasuk Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Meski demikian, koalisi menegaskan seluruh ancaman tersebut dapat diredam.

Sebagai balasan, militer Arab Saudi membombardir wilayah yang dikuasai Houthi dengan puluhan serangan udara. Namun, gempuran udara tersebut belum berhasil menghentikan pergerakan pasukan milisi di lapangan.

Di sisi lain, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim telah melancarkan balasan atas gempuran Arab Saudi melalui operasi militer berskala besar. Kelompok tersebut mengaku mengandalkan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan armada pesawat nirawak.

“Yang pertama menargetkan situs sensitif di ibu kota Saudi, Riyadh, dan yang kedua menargetkan fasilitas Aramco di Yanbu,” prapaparnya dalam sebuah pernyataan resmi di Telegram.

Sebelum ledakan terjadi, otoritas Arab Saudi sempat membunyikan sirene bahaya serangan udara pada malam hari. Beberapa warga di ibu kota mengonfirmasi bahwa suara dentuman keras terdengar menggelegar di beberapa sudut kota tak lama setelah peringatan dinyalakan.

Eskalasi terbaru ini merupakan kelanjutan dari krisis berkepanjangan di Yaman yang melibatkan kelompok Houthi melawan pemerintah resmi Yaman. Arab Saudi memimpin koalisi militer regional untuk menumbangkan Houthi dan mengembalikan kekuasaan pemerintah Yaman.

Perluasan wilayah kekuasaan Houthi di Yaman secara signifikan meningkatkan tensi ketegangan geopolitik dengan Arab Saudi. Serangan langsung ke infrastruktur vital seperti kilang minyak Aramco dan kawasan ibu kota kini mengancam stabilitas ekonomi serta keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com