- Kemarau panjang selama dua bulan di Pontianak memicu lonjakan harga berbagai sayuran lokal secara drastis di Pasar Flamboyan.
- Petani lokal gagal panen akibat kesulitan air tawar, sehingga pedagang mengalami penurunan pasokan sayuran yang signifikan.
- Pedagang menyiasati kelangkaan dengan mendatangkan pasokan dari Jawa dan berharap pemerintah menjaga kestabilan distribusi barang luar daerah.
Suara.com - Kemarau panjang mulai berdampak pada harga sayuran di Pasar Flamboyan, Kota Pontianak. Sejumlah komoditas yang biasanya dijual dengan harga terjangkau kini mengalami kenaikan hingga beberapa kali lipat.
Kondisi tersebut membuat pedagang menghadapi keluhan dari pembeli yang mulai keberatan dengan harga sayuran.
Maryanto, salah satu pedagang di Pasar Flamboyan, mengatakan kenaikan paling terasa pada sejumlah sayuran yang pasokannya bergantung pada hasil petani sekitar Pontianak.
“Semua harga bahan pokok melonjak naik sampai para pembeli itu mengeluh. Harganya ada yang tidak terjangkau oleh masyarakat kecil yang ingin biasa makan sayur,” kata Maryanto, Senin (21/9/26).
Harga kangkung yang sebelumnya relatif murah kini mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram. Sawi juga berada di kisaran Rp40-45 ribu per kilogram.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada kacang panjang. Komoditas tersebut kini dijual sekitar Rp55 ribu per kilogram, sedangkan harga normalnya hanya berkisar Rp8 ribu hingga Rp15 ribu.
Tauge yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu juga kini mencapai Rp35-40 ribu per kilogram.
“Semua sayur melonjak, timun juga naik. Kacang panjang Rp55 ribu, padahal sebelumnya tidak pernah sampai harga segitu,” ujarnya.
Menurut Maryanto, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasokan sayuran. Kemarau yang berlangsung sekitar dua bulan membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk tanaman.
Kondisi air yang disebut asin turut menjadi persoalan. Tanaman sayuran menjadi sulit tumbuh dan berkembang, bahkan bunga tanaman disebut kerap jatuh sebelum menghasilkan.
“Sejak dua bulan ini, sejak kemarau juga pengaruh air dan asap. Jadi sayur itu susah tumbuh, susah berkembang. Kadang bunganya jatuh, tidak bisa tumbuh,” katanya.
Pedagang kemudian mengandalkan pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Beberapa komoditas seperti wortel dan kentang relatif stabil karena banyak didatangkan dari Pulau Jawa.
“Kalau wortel dan kentang harganya stabil karena datang dari Jawa. Kalau di Pontianak ini rata-rata barangnya naik semua,” kata Maryanto.
Pasokan dari Jawa juga mulai membantu menekan harga timun. Komoditas yang sebelumnya sempat mencapai Rp35-40 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp20-25 ribu.
Namun, pasokan tersebut belum tersedia setiap hari. Barang dari Jawa biasanya tiba tiga sampai empat hari sekali.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas cabai. Harga cabai yang sebelumnya sekitar Rp65 ribu per kilogram kini mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Maryanto berharap pemerintah ikut memastikan kelancaran pasokan dari luar daerah sehingga kenaikan harga tidak semakin membebani pedagang maupun masyarakat.
“Harapan pedagang, kalau bisa diperhatikan barang-barang yang datang dari luar. Jadi ada pengaturannya, harganya stabil. Itu harapan pedagang,” pungkasnya.