- Sebanyak 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan di Kota Kendari setelah menyantap makan bergizi gratis pada Jumat.
- Kepala SPPG Watubangga mengakui adanya kelalaian prosedur penanganan bahan baku ikan tuna saat evaluasi internal.
- SPPG Watubangga dan Badan Gizi Nasional bertanggung jawab penuh menanggung biaya perawatan seluruh pelajar yang terdampak.
Suara.com - Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mengakui adanya kelalaian dalam penanganan bahan baku makanan setelah 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG).
Kepala SPPG Watubangga, Sabdi Rasyid, mengatakan evaluasi internal menemukan adanya persoalan dalam penanganan ikan tuna yang menjadi salah satu menu MBG pada Jumat (18/9).
"Dari analisa kami dalam proses itu ada kelalaian pada saat penerimaan bahan baku itu, di mana dari gabus kami pindah ke wadah cuma dibaluri es batu saja," ungkapnya di Kendari, Selasa.
Sabdi menjelaskan ikan tuna sebanyak 256 kilogram diterima SPPG pada Kamis (17/9) sekitar pukul 15.53 WITA. Saat diterima, bahan pangan tersebut disebut dalam kondisi aman dan disimpan dalam gabus berisi es batu.
Bahan kemudian ditimbang dan mulai dipotong sekitar pukul 16.30 WITA. Proses tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 21.30 WITA.
Setelah dipotong, ikan dimarinasi, dibungkus menggunakan plastik, kemudian dimasukkan ke dalam freezer untuk disimpan sebelum diolah.
Pada Jumat, SPPG Watubangga mengolah MBG dalam empat kelompok produksi atau batch. Batch pertama dimulai pukul 02.57 WITA dan selesai pukul 04.19 WITA.
Sementara makanan yang diberikan kepada pelajar MTs dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Aksar masuk dalam batch ketiga dan keempat yang dimasak pada siang hari.
Pada hari tersebut, SPPG Watubangga menyiapkan 1.040 porsi MBG. Menu yang disiapkan terdiri atas nasi putih, tuna balado, tumis kol dan wortel, orek tahu, serta buah kelengkeng.
Sabdi mengatakan penanganan bahan pangan seharusnya mengikuti prosedur Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk menjaga rantai dingin serta menerapkan prinsip first in, first out (FIFO).
Namun, ia mengakui pengawasan terhadap standar operasional prosedur (SOP), terutama pada tahap penerimaan dan persiapan bahan baku ikan, belum berjalan sebagaimana mestinya.
Kelalaian tersebut menjadi salah satu temuan dalam evaluasi internal setelah puluhan pelajar mengalami keluhan kesehatan.
Meski demikian, Sabdi menegaskan hasil evaluasi internal SPPG belum dapat memastikan bahwa kelalaian dalam penanganan bahan baku tersebut merupakan penyebab medis dari keluhan yang dialami para pelajar.
Di tengah penanganan kasus tersebut, Sabdi menyampaikan permintaan maaf kepada para pelajar, orang tua, pimpinan pondok pesantren, dan pihak lain yang terdampak.
"Saya selaku Kepala SPPG Watubangga menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya khususnya kepada siswa MTs Al-Aksar, orang tua siswa, pimpinan pondok, serta pihak yang merasa khawatir dengan persoalan ini," katanya.
Ia menyebut kejadian tersebut bukan persoalan ringan karena berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan penerima manfaat program MBG.
SPPG Watubangga bersama BGN juga menyatakan bertanggung jawab terhadap biaya perawatan seluruh pelajar yang terdampak.