Ketua Pembina ICM Minta Maaf atas Dugaan Pelecehan dan Perundungan Siswa

Senin, 28 September 2026 | 07:29 WIB
Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung. (Tangkap layar)
BACA 10 DETIK
  • Pendiri Sekolah ICM Tamsil Linrung meminta maaf kepada korban perundungan dan pelecehan seksual di Tangerang Selatan pada Minggu (27/9/2029).
  • Kasus dugaan pelecehan seksual kini ditangani aparat penegak hukum, sedangkan insiden perundungan Pramuka akhir Agustus 2026 telah disanksi sekolah.
  • Pihak yayasan menjamin pemulihan psikologis korban serta mengevaluasi sistem dan fasilitas pengamanan agar kejadian serupa tidak terulang.

Suara.com - Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung, menyampaikan permohonan maaf kepada siswa dan keluarga yang terdampak dugaan pelecehan seksual serta insiden perundungan di lingkungan sekolah tersebut.

Tamsil menyebut kedua peristiwa tersebut sebagai musibah bagi seluruh pihak, terutama anak-anak dan keluarga yang mengalaminya.

“Saya mengikuti dengan saksama pemberitaan dan perbincangan publik mengenai peristiwa di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), yaitu dugaan tindak pelecehan yang dalam penanganan aparat penegak hukum, dan insiden perundungan dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus lalu. Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua, dan yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya,” ujar Tamsil dalam keterangannya, Minggu (27/9/2029).

Tamsil secara khusus meminta maaf kepada siswa dan keluarga yang terdampak. Ia menegaskan tidak ada alasan yang dapat membenarkan seorang anak mengalami luka fisik maupun psikis setelah mengikuti kegiatan sekolah.

“Kepada siswa dan keluarga yang terdampak, saya menghaturkan permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dengan luka fisik maupun psikis, apalagi trauma yang membuatnya harus meninggalkan lingkungan belajar. Tidak ada pula kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit akibat tindakan yang mencederai kemanusiaan dan keselamatan anak,” tuturnya. 

Tamsil mengatakan dirinya juga telah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan untuk menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral.

Sementara terhadap korban dugaan pelecehan seksual beserta keluarganya, ia memastikan pihak ICM memberikan pendampingan dan pemulihan. Tamsil menegaskan ICM tidak memberikan ruang bagi tindakan yang mencederai keselamatan anak.

“Saya menegaskan, tidak ada ruang sedikit pun di ICM bagi tindakan yang mencederai kemanusiaan, keselamatan anak, dan akhlakul karimah. Pengelolaan sekolah berasrama memang tidak sederhana. Tetapi kerumitan itu tidak akan pernah kami jadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab,” ujarnya.

Diketahui, lingkungan ICM di Tangerang Selatan menjadi sorotan setelah muncul laporan dugaan pelecehan seksual terhadap seorang siswa serta insiden perundungan dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus 2026.

Kasus dugaan pelecehan tersebut telah ditangani aparat penegak hukum. Sementara terkait insiden perundungan, pihak sekolah menyatakan telah melakukan pemeriksaan internal dan menjatuhkan sanksi kepada siswa maupun pembina yang terkait.

Tamsil mengatakan evaluasi terhadap sistem sekolah juga akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Pemulihan korban sebagai prioritas utama. Yayasan menanggung sepenuhnya pendampingan psikologis dan pemulihan bagi seluruh korban, tanpa syarat apa pun,” katanya.

Selain itu, evaluasi akan mencakup kesiapan pembina, SOP kegiatan luar kelas dan asrama, mekanisme pengaduan siswa maupun orang tua, serta fasilitas pengamanan.

Tamsil menegaskan keselamatan dan pemulihan anak harus menjadi perhatian utama dalam penanganan kedua kasus tersebut.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com