-
Indonesia resmi mengurangi alokasi ekspor gas bumi ke Singapura dari Sumatra dan Natuna.
-
Politikus Singapura menyindir ketergantungan 90 persen jaringan internet internasional Indonesia pada wilayah mereka.
-
Pengurangan pasokan gas murni menargetkan Singapura karena penyesuaian jaringan pipa penyaluran energi domestik.
Suara.com - Politikus Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, 'mengancam' akan memutus jalur kabel internet ke Indonesia yang melintas di perairan Singapura. Hal itu diutarakan Cheng Ern Lee dalam akun X miliknya.
Infrastruktur komunikasi digital Indonesia memang masih sangat bergantung pada jalur transmisi Singapura.
"Potong?" katanya melalui akun X @calvinelcheng dikutip Suara.com.
Reaksi tersebut muncul bersamaan dengan unggahan infografis yang menampilkan besarnya tingkat ketergantungan komunikasi data Indonesia terhadap Singapura. Visual data itu memaparkan fakta bahwa 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia harus melewati jaringan Singapura.
Hanya saja ancaman itu tidak benar-benar dia lemparkan.
Cheng kemudian mengklarifikasi pernyataannya setelah mengundang banyak reaksi hangat serta kritik tajam dari para pengguna media sosial Indonesia. Mantan legislator tersebut menegaskan bahwa negaranya tetap memegang teguh norma hukum Internasional dan etika bernegara.
"Kami adalah orang-orang yang beradab dan taat hukum. Jelas kami tidak akan melakukan ini (memutus jaringan internet Indonesia)," kata Cheng yang statusnya direspos ratusan warganet Indonesia.
Pemicu utama dari anggapan Cheng Ern Lee benar-benar mengancam itu berakar pada keputusan strategis pemangkasan volume pengiriman gas bumi dari kawasan Natuna dan Sumatra. Pemerintah Indonesia resmi mengambil tindakan pemotongan kuota tersebut guna mengamankan pasokan domestik.
Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengumumkan Indonesia mulai mengurangi ekspor gas ke Singapura per Sabtu (24/10/2026).
Djoko merinci volume penyesuaian arus komoditas energi tersebut secara spesifik dari dua titik penyaluran utama.
"Kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD," ujar Djoko ketika.
Kebijakan pengurangan alokasi energi ini murni menargetkan pembeli di Negeri Singa tanpa melibatkan mitra ekspor internasional lainnya. Peta pipa penyaluran gas lintas negara menjadi alasan teknis di balik keputusan tunggal tersebut.
"Nggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja," ujarnya.