Kenapa Vaksin HPV Diberikan Sejak Anak-anak? Ini Penjelasan Kemenkes

Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:34 WIB
Ilustrasi vaksin HPV. (Unsplash/Mufid Majnun)
BACA 10 DETIK
  • Kemenkes menyediakan imunisasi HPV gratis bagi anak sekolah dasar untuk pencegahan dini kanker serviks.
  • Cakupan nasional tahun 2024 baru mencapai 89,7 persen dan masih di bawah target WHO yaitu 90 persen.
  • Keraguan orang tua terhadap kehalalan vaksin, efek samping, dan hoaks menjadi hambatan utama program tersebut.

Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan imunisasi human papillomavirus (HPV) kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar untuk melindungi mereka sebelum terpapar virus yang dapat menyebabkan kanker serviks tersebut.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, pemberian imunisasi sejak dini merupakan langkah pencegahan yang dilakukan sebelum risiko penyakit muncul.

"Kenapa kita harus diberikan imunisasi sejak dini padahal mungkin dampaknya baru bertahun-tahun kemudian? Jawabannya sederhana, karena kita ingin melindungi mereka sebelum risiko itu datang. Prinsip imunisasi adalah mencegah, bukan menunggu seseorang sakit. Jadi bukan mengobati," kata Aji dalam media briefing bersama RCCE+ Indonesia, Kamis (29/10/2026).

Aji menambahkan bahwa saat ini Kemenkes sudah menyediakan imunisasi HPV secara gratis bagi anak perempuan dan laki-laki tingkat di sekolah dasar.

Ia menekankan, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai imunisasi tersebut agar memahami pentingnya perlindungan sejak dini.

Karena itu, Kemenkes berupaya meyakinkan dan mengedukasi masyarakat agar tidak ragu memberikan imunisasi kepada anak.

Di sisi lain, cakupan imunisasi HPV di Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target perlindungan yang optimal.

Data cakupan imunisasi HPV nasional pada anak perempuan usia sekolah, yakni kelas 5 dan 6 SD, baru mencapai 89,7 persen pada 2024. Angka tersebut masih berada di bawah standar minimal 90 persen yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Aji mengatakan, cakupan imunisasi yang tinggi diperlukan untuk membentuk kekebalan komunitas atau herd immunity.

"Untuk menciptakan kekebalan komunitas atau kesehatan imunitas itu cakupan imunisasi harus di atas 90 persen," ujarnya.

Selain bagi anak perempuan, Kemenkes juga mulai menyediakan imunisasi HPV gratis bagi anak laki-laki pada 2026.

Perluasan sasaran ini menjadi bagian dari upaya memberikan perlindungan lebih luas terhadap infeksi HPV sejak usia sekolah.

Meski demikian, upaya meningkatkan cakupan imunisasi masih menghadapi tantangan.

Aji menyebut keraguan orang tua terhadap status kehalalan vaksin, kekhawatiran mengenai efek samping, hingga maraknya hoaks menjadi sejumlah faktor yang membuat sebagian masyarakat enggan memberikan imunisasi kepada anak.

"Ini akibat dari tingginya keraguan masyarakat terhadap status kehalalan atau efek samping, maraknya hoaks, dan sebagainya. Di luar tentu persoalan akses, layanan, kondisi geografi, dan sebagainya," kata Aji.

Ia menambahkan, imunisasi merupakan salah satu isu kesehatan yang rentan terhadap penyebaran informasi palsu.

Karena itu, penyampaian informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat menjadi penting untuk meningkatkan penerimaan terhadap program imunisasi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com